SRO dan OJK Tetapkan Stimulus untuk Pasar Modal Indonesia

  • Whatsapp
SRO dan OJK Tetapkan Stimulus untuk Pasar Modal Indonesia

SRO dan OJK Tetapkan Stimulus untuk Pasar Modal Indonesia

MAKASSAR, UPEKS.co.id– Sebagai upaya mendukung program pemerintah untuk meringankan beban ekonomi  nasional akibat Pandemi Covid-19, Self-Regulatory Organization (SRO) melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa  Keuangan (OJK), telah menetapkan aneka stimulus kepada stakeholders pasar modal.

Bacaan Lainnya

Tujuan stimulus ini untuk meringankan beban ekonomi, yang sedang dihadapi oleh segenap stakeholders Pasar  Modal Indonesia. Selain itu, stimulus ini juga diharapkan dapat menjaga optimisme pasar terhadap stabilitas  pertumbuhan pasar modal, dan sektor keuangan nasional karena dampak Pandemi Covid-19.

Melalui surat Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor: S-168/D.04/2020  tanggal 18 Juni 2020, terkait Persetujuan Relaksasi Kebijakan dan Stimulus SRO kepada Stakeholder, terdapat  serangkaian stimulus yang telah dirumuskan dan ditetapkan oleh SRO melalui koordinasi bersama OJK.

Pertama, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memberikan dukungan penyediaan infrastruktur Teknologi  Informasi, kepada Anggota Bursa dalam implementasi kebijakan work from home (WFH) dengan menggunakan  internet dan cloud, sehingga dapat mendukung pencegahan penyebaran Covid-19.

Selain itu, BEI juga memberikan stimulus dan kebijakan khusus terhadap kewajiban, untuk pembayaran biaya  Pencatatan awal saham dan/atau biaya Pencatatan saham tambahan, yang dipotong sebesar 50% dari  perhitungan nilai masing-masing biaya bagi Perusahaan Tercatat dan/atau Calon Perusahaan Tercatat.

“Kebijakan khusus tersebut berdasarkan Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor: Kep-00044/BEI/06- 2020 tanggal 18 Juni 2020 perihal Kebijakan Khusus atas Biaya Pencatatan Awal Saham dan Biaya Pencatatan  Saham Tambahan,” demikian rilis SRO, yang diterima Upeks, Minggu (21/6/2020).

Diharapkan, kebijakan ini dapat memberikan keringanan kepada Perusahaan Tercatat dan/atau Calon  Perusahaan Tercatat baru dalam menggalang dana jangka panjang dari masyarakat.

Kemudian, PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) siap menerapkan relaksasi atas Dana Jaminan, yaitu  dengan memberikan keringanan atas kutipan setoran Dana Jaminan kepada Anggota Kliring yang sebelumnya  sebesar 0,01% menjadi sebesar 0,005% dari nilai setiap Transaksi Bursa atas Efek Bersifat Ekuitas.

Kebijakan tersebut diatur dalam Surat Keputusan Direksi KPEI Nomor: Kep-019/DIR/KPEI/0620 tanggal 18 Juni  2020, perihal Relaksasi Kebijakan dan Stimulus Pengurangan Kutipan Dana Jaminan.

Sedangkan, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akan memberikan relaksasi keringanan biaya kepada  penerbit Efek berupa pembebasan biaya penggunaan e-Proxy, pembebasan biaya Pendaftaran Efek Awal atas  Efek yang diterbitkan melalui Equity Crowdfunding (ECF), dan pengurangan Biaya Pendaftaran Efek Tahunan  sebesar 50% atas Efek yang diterbitkan melalui ECF.

KSEI juga memberikan stimulus kepada Perusahaan Efek dan Bank Kustodian berupa pemberian alternatif  jaringan koneksi menggunakan Virtual Private Network (VPN), penyesuaian biaya penyimpanan (safekeeping  fees) sebesar 10% dari sebelumnya 0,005% per tahun menjadi 0,0045% per tahun.

Stimulus lainnya, yakni dukungan kepada Industri Reksadana berupa pemberian alternatif jaringan koneksi  menggunakan VPN, Penyesuaian Biaya Bulanan Produk Investasi untuk Produk Investasi yang terdaftar, dan  Pembebasan Biaya Pendaftaran Produk Investasi yang didaftarkan.

Seluruh stimulus dan kebijakan tersebut diberlakukan sejak tanggal 18 Juni 2020 sampai dengan tanggal 17  Desember 2020. SRO bersama OJK akan terus melakukan koordinasi dan memonitor perkembangan aktivitas di  pasar modal, serta mengambil langkah-langkah strategis guna meredam dampak Pandemi COVID-19 terhadap  keberlangsungan stabilitas ekonomi nasional. (eky)

Pos terkait