MAKASSAR CITY

Tertekan Wabah Covid-19, Kondisi Jasa Keuangan Sulsel Masih Normal

Tertekan Wabah Covid-19, Kondisi Jasa Keuangan Sulsel Masih Normal

MAKASSAR, UPEKS.co.id– Pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 berdampak secara langsung ataupun tidak langsung terhadap kinerja dan kapasitas debitur termasuk debitur UMKM. Hal ini berpotensi meneningkatkan non performing loan/financing (NPL/NPF).

Menurut Kepala OJK Regional VI Sulampua, M Nurdin Subandi, Rabu (20/5/2020), permasalahan likuiditas, dan tekanan pada permodalan di lembaga jasa keuangan, dan juga mengganggu kinerja perbankan, stabilitas sistem keuangan yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Sebagai langkah antisipasi adanya potensi resiko kedepan (forward looking Policy), OJK telah mengambil beberapa kebijakan untuk menopang fundamental pada sektor

riil/informal, menghindari kebangkrutan dan PHK masal, memenuhi kebutuhan dasar

masyarakat dan menjaga stabilitas sistem keuangan.

OJK Regional VI Sulampua sendiri menilai stabilitas sektor jasa keuangan di Sulsel per Maret 2020, masih dalam kondisi normal dan didukung permodalan dan likuiditas yang memadai dengan fungsi intermediasi sektor jasa keuangan masih membukukan kinerja positif.

Kemudian, profil risiko industri jasa keuangan tetap terkendali meski terjadi sedikit perlambatan, karena perekonomian tertekan akibat merebaknya virus Corona di banyak Negara.

Sementara kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan Maret 2020 bergerak

sejalan dengan perkembangan yang terjadi di perekonomian domestik, dan tekanan

pandemi Covid-19, kredit bank umum mencatat pertumbuhan positif

sebesar 0,58% mtm menjadi sebesar Rp122,91 triliun.

Di sisi lain, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan mengalami pertumbuhan positif sebesar 6,98% yoy menjadi sebesar

Rp13,82 triliun. Adapun pembiayaan melalui Perusahaan Pergadaian tumbuh sebesar

27,20% yoy menjadi sebesar Rp4,66 triliun.

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar

0,44% mtm menjadi sebesar Rp99,19 T.

Di tengah pertumbuhan intermediasi lembaga jasa keuangan, profil risiko masih terjaga dengan rasio NPL dan LDR perbankan masing-masing sebesar 2,94% dan 122,94%. Sedangkan rasio NPF Perusahaan Pembiayaan sebesar 2,48%.

Menurut Nurdin Subandi, fokus kebijakan OJK untuk antisipasi dampak covid-19 yaitu meredam volatilitas dari pasar keuangan, melalui berbagai kebijakan dalam menjaaga kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar, memberi nafas bagi sektor riil dan informal untuk dapat bertahan dimasa pandemi covid-19 melalui relaksasi restrukturisasi kredit atau pembiayaan.

Kemudian, memberikan relaksasi bagi industri jasa keuangan agar tidak perlu membentuk tambahan cadangan kerugian kredit macet akibat dampak covid-19 yang

dapat menekan permodalan, resolusi pengawasan yang efektif dan cepat diantaranya melalui cease and desist order dan supervisory action/resolution lainnya. (eky)

#TRENDING

To Top