ANEKA

Strategi Komunikasi Pemerintah Menuju Kehidupan Baru, Berdamai Dengan Virus

Strategi Komunikasi Pemerintah Menuju Kehidupan Baru, Berdamai Dengan Virus

Oleh : Yansi Tenu (Pemerhati Masalah Sosial).

Sejak wabah ini muncul di Wuhan dan masuk Indonesia, kita di perhadapkan pada situasi penuh kecemasan, interaksi kita selama ini dengan orang lain secara tiba-tiba berubah secara drastis. Kehadiran virus ini yang  secara tidak langsung berada diantara kita, suka atau tidak suka kita harus waspada.

Jika kita tertular maka kitapun secara tidak sadar akan menularkan kepada orang lain, karen pola menginfeksinya  sangat sulit di tebak, kapan kita tertular dan dimana, dengan siapa yang menulari itu sulit. Bisa jadi orang yang  menulari kita tanpa gejala dan kitapun tertular tanpa gejala.

Disinilah akan timbul kecemasan, ketakutan sehingga mau atau tidak akan mengubah pola interaksi kita dengan  orang lain. Kecemasan yang timbul melahirkan kewaspadaan, semua orang yang dekat dengan kita jika tidak  dalam se rumah ,maka pikiran kita mesti di hindari berinteraksi dan bersentuhan secara fisik,

Orang batuk, bersin menjadikan kita cemas bahwa orang itu adalah pembawa virus corona sehingga kita pun  secara langsung akan menghindarinya.

Semua orang bermasker, melindungi dirinya dari penularan virus, berjabat tangan sebagai eratnya persahabatan  sudah mulai di tinggalkan, membawa alat pelindung diri seperti handzanitiser menjadi pemandangan yang dulu  tidak lazim menjadi barang yang akan kita bawa kemana-mana.

Pola tingkah laku kita juga akan berubah, sehingga melahirkan potensi saling tolong menolong akan hilang jika  terjadi sesuatu musibah misalnya orang tergeletak tanpa sebab kita akan ketakutan membantunya, karena  khawatir kita tertular virus,orang yang terkena virus di dekat kita seperti tetangga akan sulit di bantu untuk di bawa  kerumah sakit karena kita takut akan tertular.

Transformasi kearah kehidupan “ new normal “ dan prilaku baru, dan kita mesti bersiap dengan semua proses itu  sehingga perubahan prilaku menjadi kunci utama sehingga kita dapat menjalankan kehidupan sehari-hari dengan  protocol kesehatan yang telah dan secara ketat kita lakukan, adaptasi diri dengan keadaan yang baru, membatasi  aktivitas yang tidak penting, membatasi pertemuan yang tidak penting adalah pola kehidupan baru.Menjaga  imunitas tubuh dengan berolah raga dan tidak stress, istirahat yang cukup dan asupan gizi yang baik akan menjadi
ritme baru dalam pola hidup sehari-hari.

Pola komunikasi adalah proses yang di rancang untuk mewakili kenyataan keterpautannya unsur-unsur yang dicakup yang di cakup beserta keberlangsungannya, guna memudahkan pemikiran secara sistimatik dan logis  (effendi, 1989 ).

Hal ini di artikan sebagai pola hubungan dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang tepat sehingga pesan yang di maksud dapat di terima.

Komunikasi antar manusia berubah oleh karena pendemi ini memaksa kita untuk melakukan hal yang tertata,  seirama sehingga menghasilkan pesan yang dapat di terima oleh khalayak, jika pola komunikasi di terima secara  sama maka setiap tindakan dan prilaku kita akan sama dengan pesan yang disampiakan.

Jika pola komunikasi mengalami perubahan maka fungsi pemerintah mengkomunikasikan petunjuk, arahan dan  pembuat putusan harus berubah, dengan pola komunikasi yang bisa di lakukan agar persepsi public terhadap  wabah dapat di terima dan pemerintah mempunyai kesiapan dalam menghadapi krisis.

Pesan harus tepat sasaran dan pesan dapat di terjemahkan menjadi bentuk tindakan untuk mengikuti perintah  demi keselamatan semua orang. Kepercayaan kepada komunikator adalah mutlak, menyampaikan harus terbuka  dan di dukung oleh data yang akurat sehingga melahirkan persepsi public yang baik.Tujuan nya adalah menjaga  kepercayan public kepada pemerintah melalui saluran media, media harus mengelola pesan dengan baik  sehingga melahirkan kepercayaan.

Pesan dalam komunikasi adalah suatu cara dalam membangun citra public, sehingga pesan dapat mempengaruhi  public, pemerintah dalam hal melakukan komunikasi politik sehingga citra menjadi penting.

Pendapat umum juga diartikan sebagai apa kebijakan yang di ambil pemerintah dalam menghadapi wabah ini,  bagaimana tanggapan tersebut jika public dapat menerima maka akan meningkatkan partisipasi public dalam  menghadapi pendemi ini.

Pesan adalah sekumpulan simbol yang tersusun menjadi sebuah makna, isi dan wujud pesan adalah keputusan  yang di buat sumber mengenai cara pesan di sampaikan.

Pemerintah sebagai aktor komunikan dalam merancang sebuah pesan agar dapat di terima public dan public  percaya akan isi pesan sehingga rela mengikuti perintah dan melaksanakan secara sadar bahwa perintah itu  adalah kebaikan bersama dalam menghadapi musibah wabah virus covid 19 ini.

Jika pemerintah ingin masyarakat mengikutinya maka pemerintah harus melakukan sebuah strategi agar pesan  tersebut di ikuti, strategi komunikasi dirancang sedemikian rupa agar tujuan tercapai yang merupakan panduan  dari sebuah perencanaan dengan proses operasional yang baik dengan pendekatan yang dapat berbeda dari
situasi dan kondisi yang diharapkan.

Arifin ( 1994 )ada Redudancy yaitu bagaimana mempengaruhi public dengan mengulang-ulang pesan, Canalizing,  memenuhi nilai standar pesan dengan arah yang di kehendaki, informatif pesan harus mempengaruhi,  menyampaikan fakta dan data yang benar, persuasive, dengan mengedepankan empati sehingga pikiran public
dapat tergugah untuk mengikuti dengan sadar, edukatif, ide dapat menjadi alat yang dapat mengedukasi dengan  menampilkan fakta-fakta dan pengalaman dan koersif, jika telah disampaikan pemerintah maka ada paksaan  sehingga muncullah peraturan dengan sangsi agar masa pendemi masyarakat harus taat agar tidak tertular dan  menularkan.

Penanganan wabah penyakit di dunia, Antony de Mello ( 1997 ) mengingatkan bahwa jumlah korban bisa menjadi  lima kali lipat, jika terjadi ketakutan di saat terjadi wabah penyakit, seribu ( 1000 ) orang menjadi korban karena  sakit, sedangkan empat ribu (4000 ) orang korban karena panik.

Merujuk kepada hal tersebut, maka komunikasi pemerintah menjadi penting dalam menghadapi ancaman  pendemi ini. Kepercayaan public perlu di bangun dan dijaga agar tidak terjadi kepanikan dalam  masyarakat sehingga penanganan dapat berjalan dengan baik.

Dalam beberapa kesempatan, komunikasi public pemerintah menjadi tidak teratur, pemerintah gamang menerapkan kebijakan, Negara lain menerapkan lock down, pemerintah mencari jalan tengah dengan  pembatasan sosial berskala besar ( PSBB ) namun titiknya bukan di pemerintah pusat tapi di daerah sehingga
pola komunikasi daerah dan pusat tidak teratur, public bingung melahirkan kepanikan, pusat dan daerah tidak  menjadi satu kesatuan informasi dan komunikasi pada gilirannya melahirkan ketidak percayaan public apakah  pemerintah mampu mengatasi pendemi ini ?

karena ada ego sektoral, wabah menjadi di politisasi dan proses merencanakan bantuan pun menjadi amburadul  dan berantakan, ada yang menerima bansos ada yang tidak, ada menteri melarang ada juga yang memerintahkan  pada akhirnya bukan wabah yang menjadikan masyarakat takut dan panik tapi ketakutan akan pemerintah menjadi  tidak kuat dengan adanya wabah ini.

Pemerintah daerah pun bingung, gubernur berbeda pendapat dengan bupati, sampai ada bupati yang karena  kesel kepada menteri menyebut menteri dengan bodoh, ada gubernur intervensi pimpinan daerahnya sehingga  karena statusnya walikotanya adalah penjabat merambah politisasi dengan tidak meneruskan jabatan sang  walikota, para gubernur harus mengubah pola komunikasi politiknya agar dapat sinkron dengan pemerintah  daerah kabupaten dan kota.

Pola dan cara komunikasi inilah yang melahirkan kepanikan, bukan mengurus wabah malah mengurus data dan  jumlah yang seharusnya di sesuaikan dengan faktanya. Menurun dan naiknya orang yang tertular tidak dengan  pendekatan ilmu pengetahuan tapi komunikasi yang buruk.

Berkaca pada wabah virus ini, sesorang pemimpin mesti dapat mengelola komunikasi dengan public dengan  situasi krisis ini, sehingga pemimpin dapat menjadi penenang bukan malah menambah kepanikan. Ketika situasi di  umumkan, sudah pasti kepanikan akan timbul, kecemasan akan Nampak sehingga komunikasi yang harus di  bangun adalah menekan kepanikan dan menghindari kecemasan public.

Kottler ( 1999 ) kepemimpinan tentang mengatasi perubahan, menetapkan arah, menyelaraskan orang,  memotivasi dan menginsiprasi- menjaga orang bergerak kearah yang benar, meskipun hambatan itu sering  muncul jika di kaitkan dengan kebutuhan manusia, nilai dan emosi.

Bagaimana mengelola kecemasan dan kepanikan public di masa pendemi ? Publik sedang panic dan cemas  sehingga di perlukan komunikasi yang baik, terukur dan tepat, dampak corona di bidang ekonomi muncul ketidakpastian, di bidang sosial muncul prilaku kolektif seperti histeria massa, politik pun berubah arah ada yang
memanfaatkan menjadi publisitas mengangkat pamornya sehingga melahirkan polarisasi di masyarakat.

Pertama membenahi komunikasi dengan pola kebijakan kedua, mitigasi resiko sehingga resiko bahaya dapat dieliminir.Ketiga, kesiapan akan resiko bagi mereka yang terkena bencana sehinga mampu membantu orang dalam bencana keempat, respon, tindakan mengurangi dan mengurangi dampak bencana kelima,recovey mencakup  perbaikan dan rekonstruksi.

Perbaikan kelembagaan komunikasi menjadi wajib di lakukan sehingga komunikasi kebijakan tidak  membingungkan, dengan media center yang telah ada perlu di kembangkan bukan saja menampilkan data yang  positif, meninggal dan sembuh namun di kembangkan menjadi kesatuan komunikasi untuk menjadi penangkal  kecemasan dan kepanikan sekaligus juga menjadi mendiseminasikan solusi kongkret pemerintah dalam merespon
ragam persoalan yang ikut dari wabah ini. Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi ( the end ).

#TRENDING

To Top