Pesantren Ramadhan Virtual UMI Bahas Pentingnya Menjaga Jaga Kesehatan

  • Whatsapp
Pesantren Ramadhan Virtual UMI Bahas Pentingnya Menjaga Jaga Kesehatan

Pesantren Ramadhan Virtual UMI Bahas Pentingnya Menjaga Jaga Kesehatan

MAKASSAR.UPEKS.co.id—Memasuki puasa ke-19, “Pentingnya Menjaga Kesehatan” jadi topik utama
pembahasan pada Pesantren Ramadhan Virtual UMI, Selasa sore (12/5).

Bacaan Lainnya

Narasumber, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI, Dr. Suharni Andi Fachrin, SKM,M.Kes. Bertindak Host  Dr.H.M.Ishaq Shamad,MA dan Dr.Hj.Nurjannah Abna,M.Pd. Kegiatan diikuti sejumlah peserta siswa SLTA dan  mahasiswa.

Dalam Video Virtual itu, Dr.Suharni menjelaskan kesehatan sebagai rahmat dari Allah Swt, tanpa anugerah  kesehatan, manusia tidak dapat melaksanakan tugas dengan bai,k sebagai individu maupun sebagai anggota  masyarakat.

Ada ungkapan yang mengatakan “dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat, membuat pikiran dan tubuh  sehat. Jika memiliki tubuh yang sehat, akan menjadikan manusia bisa berkonsentrasi dengan lebih baik pada saat  belajar maupun saat beribadah dan bekerja, ujar Suharni.

Sementara itu, Host, Dr HM Ishaq Shamad,MA menambahkan, tubuh yang sehat menyebabkan otak bisa bekerja  dengan baik. Disinilah pentingnya puasa yang bisa membuat manusia memiliki kesehatan yang baik, sebagaimana  Rasulullah bersabda “Suumuu Tashihhuu”, artinya berpuasalah supaya kamu sehat.

Puasa yang membuat sehat, adalah puasa yang dilaksanakan dengan penuh semangat, keikhlasan dan  kesabaran, sehingga puasa sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi hanya sekedar kewajiban, jelas Ishaq.

Host, Dr.Nurjannah Abna mengajukan pertanyaan, kiat-kiat mengkonsumsi buka puasa, sehingga menjadikan  orang yang berpuasa tetap sehat.

M.Ishaq Shamad yang juga Ketua UPT.Pengembangan Karakter dan Dakwah UMI menjelaskan, betapa  pentingnya mengatur makanan/minuman yang dikonsumsi.

Rasulullah SAW mengingatkan pembagian isi perut yang sangat sistematis. Isi perut 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk  minuman, dan 1/3 untuk udara/bernafas. Untuk itu ketika berbuka puasa, sebaiknya menggunakan ronde.

Ronde pertama saat azan maghrib, makan makanan ringan/minuman yang manis-manis. Ronde kedua, setelah
shalat maghrib makanan pokok, dan bisa ditambah ronde ketiga setelah selesai shalat tarwih. Dengan demikian,  lambung tidak bekerja keras setelah sekian jam istirahat, jelasnya.

Seorang peserta diskusi, Rahmat mempertanyakan bagaimana menyikapi shalat Idul Fitri di masa pandemic  Covid-19, apakah boleh shalat Idul fitri di rumah?, Dr.M.Ishaq Shamad menjelaskan, dalam keadaan darurat  kesehatan seperti sekarang ini, ulama membenarkan untuk shalat Idul Fitri di rumah.

”Bisa dilaksanakan sendirian sebanyak 2 rakaat, dengan 7 kali takbir di rakaat pertama dan 5 kali takbir di rakaat  kedua. Namun jika berjamaah (3 orang atau lebih), maka 1 orang lak-laki bisa bertindak sebagai khatib. Cukup  simpel baca khutbah. Harus terpenuhi 6 syarat sahnya, yakni menyebutkan puji-pujian (hamdaalah), syahadat,  shalawat, pesan taqwa, doa untuk kaum muslimin dan muslimat, dan tertib.

Walaupun hukum shalat Id, adalah sunat, tetapi tidak ada alasan untuk tidak mengerjakannya untuk merayakan kemenangan melawan hawa nafsu, jelas Ishaq. (rls).