Jelang PSBB di Makassar, Harga Sembako Fluktuatif

Jelang PSBB di Makassar, Harga Sembako Fluktuatif

MAKASSAR,UPEKS.co.id– Jelang penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terkait pandemi Covid-19 di Kota Makassar, harga sejumlah barang kebutuhan pokok di pasar tradisional cenderung fluktuatif, walaupun ada yang mengalami kenaikan hanya dipengaruhi oleh suplai barang.

Hasil pantauan di Pasar Sentral, Pabaeng-baeng dan Pasar Terong menunjukkan kalau masa pandemi tidak berpengaruh pada suplai komiditas ke pasar-pasar tradisional.

Bacaan Lainnya

Harga beras dengan merk Pertani misalnya, terpantau dengan harga di kisaran Rp125.000 sampai Rp130.000 untuk ukuran 10 kilogram. Minyak goreng juga stabil antara Rp18.500 sampai Rp19.000 per liter.

“Hanya harga gula yang sedikit naik pak, karena orang rata-rata beli dengan jumlah banyak. Harganya sekitar Rp25.000 per kilogram,” terang Hafisah, seorang pedagang di Pasar Terong, Kamis (16/4/2020).

Sedangkan harga mie instan yang banyak dicari oleh masyarakat selama masa pandemi Covid-19 ini untuk stok kebutuhan pangan, juga cenderung stabil. Harga di pasar berkisar mulai Rp117.000 sampai Rp120.000 per dus tergantung merk dan jenis mie instant.

“Kalau harga susu, ikan sarden dan minyak goreng itu sudah dipatok dari suplier pak. Stabil ji rata-rata, seperti susu antara Rp13.250 sampai Rp14.000 per kaleng tergantung merk,” ungkap salah satu pedagang di Pasar Pa’baeng Baeng, Zaenal.

Harga ikan sarden terpantau dengan harga kisaran Rp11.000 sampai Rp15.000 per kaleng tergantung merk, harga bawang merah antara Rp30.000 sampai Rp35.000 per kilogram, cabai rawit stabil di harga Rp30.000 per kilogram.

“Sementara untuk kebutuhan lainnya seperti pasta gigi Rp15.000, sabun madi cair Rp11.300, serta sabun cuci pakaian dikisaran harga Rp20.500.

Sementara itu, Kepala Bidang Usaha Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Makassar, Ikhsan NS menyebutkan, berdasarkan pantauan harga yang dilakukan di sejumah pasar tradisional, harga kebutuhan pokok relatif stabil di masa pandemi Covid-19.

“Ada yang mengalami kenaikan, tapi tidak signifikan. Tergantung suplai dan permintaan. Kami terus melakukan pemantauan harga komoditi ini setiap pekannya,” pungkas Ikhsan. (rul/ris)