RAGAM

Silent Heroes di Sekeliling Kita

 

Armin Mustamin Toputiri

“Saya hidup untuk orang yang saya sayangi. Dan saya mati untuk orang yang saya sayangi, termasuk profesi saya”

Ninuk, perawat RSCM Jakarta, sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, dengan nada terbata-bata, menyampaikan kalimat itu kepada Arul, suaminya. Lalu Arul, menenangkan anak gadisnya yang tiada henti menangisi kepergian ibunya. “Mamamu, pahlawan nak. Kamu mesti bangga punya mama seperti dia”.

***

Dia Ninuk, satu di antara ratusan “martir” di seantero jagat — beberapa bulan terakhir – telah merenggang nyawa karena loyalitas mereka pada profesi. Bertaruh dedikasi demi kemanusiaan. Mereka ada di garda terdepan menghadapi gempuran pendemi Covid-19. Mereka bukan siapa, tetapi kepergian mereka ditangisi, ikut dibanggakan — minimal di mata keluarganya sendiri — sebagai pahlawan. Seperti halnya disampaikan Arul kepada anak gadisnya.

Kepergian ratusan martir pandemic Covid-19, mengingatkan saya pada satu film pernah tayang di stasiun tivi nasional. Judulnya “The Making of A Hero”. Film drama biografi yang disutradarai Phillip Barsos dan dibintangi Donald Sutherland bersama Helen Mirren itu, menceritakan kisah nyata 1938, ketika dokter bedah Norman Bethune mengabdikan dirinya di Tiongkok.

Di usia 50 tahun, meski terserang penyakit TBC, tapi demi dedikasinya selaku seorang dokter, dia rela berjalan kaki ratusan mil, dari Kanada hingga pedalaman Yenan di pegunungan Wutai, Tiongkok Utara. Dia datang merawat ratusan pasukan komunis Mao Zedong yang terluka akibat gempuran bala tentara Jepang. Namun karena penyakitnya, juga akibat kelelahan, dia gugur di camp militer itu. Sebagai rasa terima kasih, pemerintah menobatkan dirinya sebagai pahlawan Tiongkok. Ada sekian patungnya, hingga kini, kokoh berdiri di Tiongkok.

***

Jika demikian, apa serta siapakah laiknya disebut pahlawan? “So what is a hero, who is a hero?” SBY, Soesilo Bambang Yudhoyono, di 15 tahun lalu, menanyakan seperti itu dalam artikelnya di majalah terkemuka dunia, Time, edisi 3 Oktober 2005. Judulnya, persis sama dengan judul film itu, “The Making of A Hero”. Juga, sama judul novel karya Nicholas Ostrovski, 1937. Serta novel ditulis Thomas S Long, 2005.

SBY, yang purnawirawan jenderal berbintang lima itu, ulang menanyakan seperti itu, sebab dia mengaku, telah dipertemukan banyak orang yang berbuat untuk suatu tujuan, nyaris mustahil. Tulis SBY, mereka telah mengajari saya memahami definisi pahlawan yang sesungguhnya. Catur misalnya, Letkol TNI di Meulaboh itu rela bertaruh nyawa menyelamatkan para korban tsunami, sementara istri dan anaknya belum dia temukan. Juga ada Butet Manurung, rela berjalan kaki menembus belantara hutan, semata untuk memberantas buta huruf warga di pedalaman.

Nurani kita terhentak. Logika jernih kita bertanya, medan magnet apa gerangan yang merasuki mereka, mau melakukan sesuatu yang seolah tak masuk akal itu? Apakah karena tugas “is it duty?” Ketetapan hati “determination?” Ataukah ketekunan, “perseverance?” Ataukah, karena faktor apa?

Bisakah kita berbuat seperti mereka? Relakah kita bertaruh nyawa demi loyalitas pada profesi dan tugas, seperti dilakukan almarhumah Ninuk, juga ratusan petugas medis di jagat? Ninuk hanyalah seorang perawat rendahan dengan gaji kecil, tapi karena demi dedikasinya dan demi kemanusiaan, dia siap memantik risiko melayani banyak orang yang terpapar Covid-19, sekalipun berujung nyawa dirinya menjadi taruhan.

Pada situasi yang sama, malah — mungkin bisa jadi — sebaliknya banyak terjadi. Justru kita mempertaruhkan nyawa banyak orang demi meraih kedudukan agar kita mencapai zona nyaman sendiri. Lalu, melalui kedudukan yang berlebih yang idialnya memang untuk kepentingan orang banyak itu, kita pertaruhkan untuk memenuhi hasrat diri kita sendiri bersama keluarga.

.***

Saat ini, umat manusia seantero dunia, lagi-lagi dihantam krisis global akibat pandemi Covid-19. Di baliknya, kembali dipertontonkan hadirnya para “silent heroes”. Pahlawan yang senyap di sela suburnya “pahlawan narsis”. Kita menikmati keberlangsungan hidup di tengah peradaban yang aman dan tenteram hingga abad ini, karena masa sebelum kita, ada sejumlah orang seperti mereka, berdiri di garda terdepan sebagai “martir”, bertaruh nyawa berhadapan krisis. Dan tiapkali krisis, hukum alam selalu menghadirkan dua muka. Pejuang dan pecundang.

Ninuk, satu di antara ratusan yang gugur. Mengajarkan kita, definisi pahlawan yang sebenarnya. Bahwa banyak “silent heroes” di sekeliling kita. Dia, hanyalah perawat rendahan. Jenazahnya tak dimakam di Taman Makam Pahlawan. Namanya, mungkin, tidak ditulis dalam tinta sejarah. Tapi arwahnya, mewujud “martir” bagi keberlangsungan peradaban umat manusia selanjutnya. Mereka itulah, sebenar-benarnya pahlawan yang pantas kita tauladani, bukan pada diri dan kedudukannya, tapi pada “the making”, pada perbuatannya. (*)

Makassar, 28 April 2020

Loading...

#TRENDING

To Top