GELIAT INVESTASI

Bisnis Ritel Merengkuh Kekuatan Aplikasi Digital

 

TENANT MARI. Toko dan tenant di Mal MaRI ini kini melayani pembeli lewat offline di mal dan online di aplikasi ‘Mallku’. (Foto: Dok. Upeks)

“Di mana tidak ada pergumulan, di situ tidak ada kekuatan”. Ungkapan tokoh Oprah Winfrey ini nampaknya tepat menggambarkan bangkitnya roda ekonomi dari dunia ritel setelah menemukan kekuatan dari teknologi digital. Sempat mengalami perlambatan bahkan beberapa jatuh bangkrut karena terlindas pergumulan gaya hidup online shopping, sejumlah pusat perbelanjaan malah mendapat kekuatan baru dengan menciptakan aplikasi digital yang meng-online-kan tenant dan toko di dalamnya.
===

LAPORAN: SUKAWATI

Kekuatan aplikasi digital itu pula yang kini dimiliki dua group pusat perbelanjaan terbesar di Kota Makassar. Mal Kalla Group (menaungi Mal Ratu Indah dan Nipah Mall) menghadirkan aplikasi ‘Mallku’ dan Group Mal Karebosi (yang membawahi lima pusat perbelanjaan, Mal MTC Karebosi, Mal Karebosi Link, SPM MTC Karebosi, PGM Karebosi Link, dan Karebosi Junction), meluncurkan aplikasi ‘RitelAku’.

Kedua aplikasi itu kini meng-online-kan ratusan toko dan tenant yang tergabung di mal tersebut. Kini mereka melayani pelanggan, lewat toko offline dengan toko fisiknya di mal dan toko online melalui aplikasi.

Bayang-bayang keterpurukan atas cepatnya perkembangan teknologi mengubah gaya hidup masyarakat dari shopping di mal beralih ke belanja online, nyatanya mampu ditangkal dengan aplikasi digital yang dengan cerdas dilahirkan management pusat perbelanjaan terbesar di Kota Makassar itu. Hal itu menjawab tantangan gaya hidup customer yang serba online.

Marketing & Communication Manager PT Kalla Inti Karsa, Jesse Rezky Mulia, mengatakan, pihaknya menyiapkan program aplikasi ‘Mallku’ ini dengan matang, mulai dari tahap gagasan, pengembangan ide, dan pemilihan fitur, hingga resmi dirilis sejak Minggu, 1 Desember 2019 lalu.

“Aplikasi ini dipersiapkan dengan sangat detail untuk menghasilkan sebuah aplikasi loyalty membership berbasis mobile apps, untuk sebuah shopping mall di wilayah Makassar dan Indonesia Timur,” ungkap Jesse, beberapa waktu lalu.

Dikatakan, saat ini, teknologi menjadi hal yang mutlak dan bukan lagi sebagai alternatif. Aplikasi Mallku adalah salah satu bagian dari inovasi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh stakeholders, baik customer maupun tenant. Bahkan kini, ribuan customer sudah mengunduh dan berinteraksi langsung dengan tenant-tenant di mal tersebut hanya di genggaman.

“Melalui aplikasi Mallku pengunjung dapat merasakan kemudahan dalam mengakses setiap informasi di Mal Ratu Indah maupun Nipah Mall,” tandas Jesse.

Para pengusaha yang tergabung di Group Mal Karebosi, bahkan sudah menikmati online shopping mall ini sejak pertengahan 2017 lalu melalui aplikasi ‘RitelAku’. Para pemilik toko yang kebanyakan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM), baik fashion, elektronik, dan kuliner di mal itu, tak lagi khawatir ditinggalkan karena kini mereka menemui pelanggannya lewat toko online dan offline. Secara offline di toko fisik atau tenant di mal dan toko online di ‘RilelAku’.

“Kita tentu harus jeli melihat perkembangan gaya hidup masyarakat, konsumen kita. Kita tidak ingin melihat para pengusaha yang bernaung di mal kami, tumpuan ekonomi keluarga mereka lumpuh karena tergerus gaya hidup online di era digital ini,” tutur Binsar J Samosir, Direktur Utama PT Tosan Permai Lestari, kepada Upeks, baru-baru ini.

Dikatakan, sejak diluncurkan pada 2017 lalu, RitelAku langsung disambut hangat konsomen. “Perkembangannya sangat pesat dibanding hanya mengandalkan penjualan offline di mal. Benar-benar masyarakat sekarang, di rumah saja sudah bisa mendapatkan apa yang mereka mau. Tinggal klik dan bayar, barangnya akan sampai di rumah,” papar Binsar.

Mengangkat Ekonomi Sulsel Lewat Digital

Pesatnya penggunaan teknologi digital di Sulsel dan khususnya Kota Makassar ini, terekam dalam data East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2020, yang dirilis awal tahun ini.

EV-DCI memberi Kota Makassar skor tertinggi di wilayah timur Indonesia, yaitu 46,8. Di antara 9 pilar yang menjadi penilaian, perekonomian bidang digital mendapatkan skor tertinggi sebesar 64,2. Skor perekonomian tersebut
terbesar ke-7 di tingkat nasional yang berarti kota ini
dapat memanfaatkan input dengan cukup baik.

Sebagai kota salah satu dari empat kota pusat pertumbuhan utama di Indonesia, yakni Medan, Jakarta, dan Surabaya, Kota Makassar tercatat cukup tinggi dalam penggunaan ICT dengan skor 61,8.

Namun, pilar keuangan di Kota Makassar ini hanya mendapatkan skor 34,6, menunjukkan masih terdapat ruang untuk terus ditingkatkan.

EV-DCI juga mengungkap, meski Sulawesi Selatan (Sulsel)
yang terbaik di kawasannya, pilar terbaik di Sulsel hanya memiliki nilai 57,5, yaitu penggunaan ICT. Pilar kedua terbaik di provinsi ini adalah regulasi dan kapasitas pemda (56,5; ke-5).

Sangat disayangkan, infrastruktur tersebut belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengembangkan perekonomian, terlihat untuk pilar ini mendapatkan nilai 37,4, dan untuk indikator PDRB sektor informasi dan komunikasi (10,7) dan PDRB sektor jasa keuangan (5,5).

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Industri Tekstil, Elektronika, dan Telematika Dinas Perindustrian Provinsi Sulsel, Meyke Sultan, mengatakan, Sumber Daya Manusia (SDM) pelaku IKM di Sulsel harus berinovasi supaya
tidak ketinggalan dan mengepakkan sayap ke dunia digital.
“Salah satu komitmen dari Dinas Perindustrian Provinsi Sulsel untuk memperkuat ekosistem inovasi di daerah adalah dengan menyiapkan Program Inkubator Bisnis Teknologi Informasi dan Elektronika (IBTIE),” terang Meyke Sultan, saat sosialiasi “Start-up”Tech Provider 4 Industry, yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian bekerjasama Dinas Perindustrian Provinsi Sulsel, baru-baru ini.

Dikatakan, IBTIE yang saat ini sudah berjalan lebih dua tahun, merupakan program start-up untuk melahirkan startup digital berbasis Industri 4.0. Hal ini sangat penting, mengingat sengitnya pertumbuhan IKM dan UKM di Indonesia tidak terlepas pada beberapa permasalahan yang dihadapi, salah satunya keterbatasan kemampuan dalam digital marketing, pengelolaan supply chain, serta pengolahan data yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi bisnis.

Sementara itu, Co-founder & Managing Partner, East Ventures, Willson Cuaca, mengungkapkan, untuk mereka yang akan atau baru merintis bisnis, EV-DCI adalah sebuah peta peluang. Data menunjukkan bahwa perjalanan industri digital Indonesia masih panjang.

“Pengalaman East Ventures selama 10 tahun bekerja sama dengan para founder Indonesia menunjukkan bahwa kearifan lokal adalah aset yang tak tergantikan dalam membangun perekonomian digital Nusantara. EV-DCI adalah kontribusi kecil dari kami, benih wawasan yang kami harap bersemai menjadi ribuan gagasan,” tutur Willson Cuaca, dalam keterangan tertulisnya saat merilis EV-DCI.

Dia meyakini roda transformasi digital di Indonesia akan terus bergerak kencang. Karena itu, semangat startup harus terus dipupuk untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dimulai dengan keadilan digital bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk bergerak selain sekarang, karena besok mungkin sudah terlambat,” tandasnya. (*)

Loading...

#TRENDING

To Top