Lima Kecamatan Rawan Banjir di Enrekang, BPBD Imbau Warga Waspada

  • Whatsapp
Lima Kecamatan Rawan Banjir di Enrekang, BPBD Imbau Warga Waspada

Lima Kecamatan Rawan Banjir di Enrekang, BPBD Imbau Warga Waspada

ENREKANG.UPEKS.co.id— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Enrekang  mengimbau kepada masyarakat agar waspada terhadap bencana banjir dan tanah longsor. Hal ini terkait  datangnya musim penghujan dan hujan yang turun secara intens.

Bacaan Lainnya

Imbauan ini terutama ditujukan khusus kepada masyarakat yang tinggal di daerah wilayah lereng – lereng gunung
dan bantaran dua sungai yaitu Sungai Saddang dan Sungai Mata Allo.

Di Kabupaten Enrekang, lima titik rawan terkena banjir dan longsor. Diantaranya, Kecamatan Enrekang, Cendana,
Anggeraja, Bungin dan Baraka, kata Kasi Kesiapsiagaan Bencana BPBD Enrekang, Eka Febriansyah.

Eka mengatakan, lima Kecamatan rawan banjir tersebut merupakan daerah yang dialiri langsung dua sungai  besar yakni Sungai Saddang, dan Sungai Mata Allo.

Desa yang paling rawan banjir dilima Kecamatan tersebut adalah Desa Malalin, Desa Lebang, Desa Pinang, Kota  Enrekang dan perumahan Kukku yang tahun lalu mengalami banjir bandang. Kelima tempat ini harus selalu siap  siaga,” kata Eka.

Selain itu, Eka juga mengatakan ada Desa ditiga Kecamatan yang rawan longsor yaitu Desa Parombean,  Kecamatan Curio dan Desa Kadingeh Kecamatan Baraka.

Sementara itu di Kecamatan Enrekang ada yaitu Desa Buttu Batu, Desa Tungka, Desa Tungka dan Desa Temban.

” Di Desa Kadingeh, Kecamatan Baraka masih ada retakan sisa longsor tahun lalu, di Desa Parombean juga  sangat rawan dan sangat berbahaya karena tahun lalu terjadi banjir bandang dan tanah longsor. Kita berharap  masyarakat terus waspada”. Imbuhnya.

Untuk itu masyarakat diminta agar tidak lengah apalagi 80 persen daerah di Kabupaten Enrekang adalah  pegunungan dan dipastikan sangat rawan longsor. Selaun itu, masih banyak warga yang tinggal bahkan  mendirikan rumah di tebing-tebing dan lereng – lereng gunung.

” Sangat rawan, apalagi 80 persen Kabupaten Enrekang adalah Wilayah pegunungan. Jadi hampir seluruh  wilayah di 12 Kecamatan di Enrekang sangat rawan akan bencana longsor,” pungkasnya.

Ia pun mengimbau, untuk masyarakat yang ada di wilayah rawan, apabila intensitas hujan tinggi dan ekstreem agar segera mengungsi.

Kasi Kesiapsiagaan Bencana BPBD Enrekang, Eka Febriansyah, mengatakan pihaknya telah menyiagakan personel hadapi bencana.

Menurutnya, untuk antisipasi akan terjadinya bencana di musim hujan ini, pihaknya telah mrnyiagakan posko siaga  bencana 24 jam di Kantor BPBD Enrekang.

Di posko siaga bencana itu, BPBD Enrekang sudah siapkan personel jaga 24 jam untuk siap terjun jika bencana  terjadi sewaktu-waktu.

“Kita di BPBD selalu siap siaga hadapi potensi bencana yang kapan saja bisa terjadi, personel selalu siaga 24 jam  di posko,” kata Eka, Rabu (1/1/2020).

Ia menjelaskan, pihaknya sudah ada beberapa langka yang dilakukan oleh BPBD Enrekang untuk antisipasi  terjadinya bencana.

Seperti membentuk desa tangguh bencana, yang saat ini jumlahnya sudah capai 20 desa yang dibentuk.

Selain itu, pihaknya juga gencar dan rutin melakukan sosialisasi kesiapsiagaan bencana di beberapa sekolah.

“Intinya sebenarnya kita ingin bentuk daerah rawan bencana tiap tahun minimal itu tiga, kita bentuk karena  disesuaikan anggaran. Agar masyarakat bisa paham terkait siaga bencana,” ujarnya.

Ia pun mengimbau agar masyarakat selalu waspada termasuk yang di daerah gunung dan tebing. “Kalau intensitas  hujan sangat tinggi sebaiknya mengungsi dulu di tempat aman,” tuturnya. (Sry).

Pos terkait