MAKASSAR CITY

JSI: Nasdem-PDIP, Parpol Paling “Seksi” di Pilwali

JSI: Nasdem-PDIP, Parpol Paling "Seksi" di Pilwali

MAKASSAR, UPEKS.co.id–Tahun 2020 telah tiba. Tahapan kandidasi di sejumlah parpol di momen Pilwali Makassar 2020 semakin mendekati fase finalisasi. Nursandy Syam selaku Manager Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia (JSI) mengatakan, berkaca pada manuver parpol selama 2019 kemarin, Nasdem-PDIP terlihat melangkahi parpol lain dari sisi wacana.

Kata Nursandy, pergerakan dua parpol ini begitu mencuri perhatian publik kota Makassar. Dominasinya bisa dilihat dari pemberitaan dan diskusi di Warung kopi maupun percakapan di Group WhatsApp. Bahkan, nyaris seluruh figur sangat menginginkan dukungan dua parpol itu. “Yah. Nasdem-PDIP lagi tampil ‘seksi’ di mata figur-figur yang ingin menjadikannya sebagai kendaraan politik,” ujarnya melalui pesan Whatsapp, Jumat (3/1/20).

Nuraandy mengatakan, meraih dukungan Nasdem dan PDIP bisa dikatakan bekal yang luar biasa bagi figur Balon Wali Kota Makassar untuk bertarung. Hal tersebut beralasan. Pasalnya baik Nasdem maupun PDIP sama-sama memiliki 6 kursi di parlemen. “Mengacu syarat dukungan, dua parpol ini tidak bisa mengusung sendiri tapi dukungannya akan mempermudah bagi siapapun figur untuk mencukupkan syarat dukungan politiknya,” ujarnya.

Di samping itu, Nasdem dan PDIP masing-masing mendorong kader internal untuk bertarung. Nasdem mendorong Danny Pomanto, dan nama Andi Rahmatika Dewi juga mencuat di pentas politik Pilwali. Sementara PDIP mendorong Andi Yagkin Padjalangi dan Taufiqqulhidayat Ande latif untuk mengincar posisi Wakil Wali Kota. “Hal ini memberi petunjuk negosiasi bagi figur eksternal terkait arah dukungan kedua parpol itu,” tambah Nursandy.

JSI: Nasdem-PDIP, Parpol Paling "Seksi" di Pilwali

Alasan lainnya adalah soal Insentif elektoral. Meski Pilkada adalah ajang pertarungan figur dan bukan parpol, namun besar kecilnya party ID tetap memiliki pengaruh apalagi dua parpol ini sangat nasionalis sehingga memiliki relevansi elektoral dengan publik kota makassar yang heterogen.

Pun, Nasdem dan PDIP memiliki kader-kader yang bisa menjadi “vote getter” atau figur yang mampu mendapatkan jumlah suara dalam jumlah banyak karena kepopulerannya. Hak tersebut jelas akan sangat membantu kerja-kerja elektoral.Tak hanya itu, Nasdem ataupun PDIP punya kemampuan menambah dukungan finansial bagi figur kandidat yang diusung. Mengingat Nasdem banyak dihuni oleh kalangan pengusaha sedangkan PDIP adalah partai penguasa saat ini.

Selanjutnya, kata Nursandy, adalah Perlindungan hukum. Sudah menjadi perbincangan publik bahwa Nasdem dan PDIP terindikasi memiliki relasi yang kuat dengan institusi penegak hukum hari ini, sehingga bagi figur kandidat yang merasa “was-was” akan kasus hukum bisa sedikit bernafas lega.

“Dukungan itu bisa dimanfaatkan sebagai langkah antisipasi untuk menutup celah yang bisa dimanfaatkan oleh kompetitor. Mencermati dinamika Pilwali Makassar saat ini, dukungan Nasdem dan PDIP tak hanya memperkuat figur kandidat yang diusung tapi akan ikut menentukan jumlah kontestan yang akan bertarung di Pilwalkot Makassar,” ujarnya.

Kini, kata Nursandy, ada dua hal yang menarik ditunggu dari Nasdem dan PDIP. Kepada siapa dukungan dari dua parpol ini diberikan? Apakah kedua parpol tersebut menyatu dalam gerbong koalisi atau menempuh jalan sendiri-sendiri untuk berseteru? “Tentu Nasdem dan PDIP akan menakar untung dan ruginya. Semoga saja melahirkan keputusan yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat dan masa depan bangsa,” tandasnya. (jir)

#TRENDING

To Top