EKONOMI BISNIS

Melawan Gulita hingga ke Papua

Peran Sosial Harianto Albarr, Penerima Satu Award

CERIA. Harianto Albarr bersama anak-anak tampak ceria di Pulau Waiqeo, Papua di sela-sela melakukan survei pada lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), belum lama ini. (ist)

Cita-citanya simple. Membuat kampung halamannya terang benderang di malam hari. Cita-citanya itu terwujud Sebelas tahun lalu. Berbekal barang bekas, dia membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang  mampu menerangi rumahnya plus tetangga sekampung. Perjuangannnya inilah membuahkan penghargaan Satu Award pada 2012 lalu.

Setelah kampung halamannya ‘menyala’, ternyata Harianto Albarr (31) tak puas sampai di situ. Jiwanya terpanggil untuk membantu ratusan kampung yang senasib dengan kampung halamannya dahulu.

Dia pun menjelajahi daerah-daerah di kawasan Timur Indonesia yang masih belum teraliri listrik. Sudah sekitar 50-an PLTMH dibangun di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, hingga Papua. “Saat ini kami tengah mempersiapkan untuk membangun PLTMH lagi di Papua,” tambah.
Harianto adalah pemuda yang lahir di pedalaman Kabupaten Barru, Sulsel. Kampungnya terpencil. Letaknya berada di ketinggian, yakni lereng Bukit Coppo Tile, Desa Bacu Bacu. Dikelilingi oleh hutan. Jalan menuju ke desanya terjal dan belum beraspal hingga kini. Desa ini berada di ketinggian 1.240 Meter di atas permukaan laut. Berjarak sekitar 160 km dari Kota Makassar.

“Listrik bagi warga Bacu-bacu, Ampiri itu seperti keajaiban. Bertahun-tahun rumah hanya mengandalkan pelita di malam hari,” kenangnya saat menceritakan perjuangannya membangun kincir pembangkit listrik pertamanya.

Inilah yang menjadi motivasi dirinya untuk melawan ketertinggalan bagi kampung-kampung yang belum teraliri listrik. “Listrik itu motor kesejahteraan. Dengan listrik kita bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat, pendidikannya dan juga akses informasinya. Supaya mereka juga tahu bahwa ada dunia yang lebih luas di luar sana,” tambahnya.

Dia tahu betul bagaimana sulitnya hidup tanpa listrik. Dia merasakan itu saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Sulit belajar di malam hari hanya dengan mengandalkan cahaya pelita. Itulah sebabnya setamat SD, dia memilih hijrah ke kota hingga berhasil masuk ke perguruan tinggi, Universitas Negeri Makassar (UNM).

Selain itu, motivasi lain juga datang dari orang tuanya. Dia mengaku ‘terbebani’ sebagai satu-satunya ‘anak berpendidikan’ di kampungnya. Harapan orang tuanya sangat tinggi. Ada anggapan, jika sudah kuliah berarti masuk kategori orang pintar. Orang yang mampu memberikan banyak solusi. Termasuk solusi tak adanya listrik.

“Ini yang selalu mencambuk saya. Harapan orang di kampung sudah terlanjur sangat tinggi. Masalah utama yang saya rasakan dan perlu diselesaikan adalah masalah listrik. Saya selalu berfikir bagaimana cara agar kampung saya bisa terang benderang seperti kampung-kampung lainnya. Ini harus terwujud,” ujarnya.

Maka saat di perguruan tinggi inilah, dia belajar otodidak membuat pembangkit listrik yang cocok dengan kampung halamannya. Dia belajar mengandalkan tutorial di internet. Teknik elektro memang bukan jurusannya. Saat mendaftar kuliah, dia lolos di Fakultas Kimia UNM.

Kenapa memilih pembangkit kincir air? Harianto menjawab, inilah sumber daya alam yang paling sesuai dengan kondisi alam di kampungnya. Ada sungai yang alirannya deras. Bahkan juga ada air terjun. Orang di kampungnya menamainya Wae Luttu’e atau air yang terbang.

Pembangkit itu pun jadi. Terbuat dari bahan yang sangat sederhana. Dari dinamo bekas dan potongan-potongan kayu.  “Modal awal tidak sampai Rp10 juta saat itu. Karena bahan-bahan yang kami gunakan semuanya terjangkau,” kenangnya.

Bersama masyarakat di kampungnya, Dia mulai dengan membendung aliran sungai. Lalu menggunakan Pohon Nira Aren menjadi pipa yang menghantar air menggerakkan kincir kayu buatannya. Hasilnya, tiga rumah berhasil menikmatinya.

Tak lama kemudian, para tetangga yang melihat keberhasilannya, kagum dan turut meminta agar rumah mereka bisa dialiri listrik.

Keberhasilannya itu tidak berhenti sampai di situ saja. Dia mulai melakukan pengembangan-pengembangan dengan melakukan penggantian dinamo yang lebih bertenaga. Pada 2014 dengan bantuan Bank CIMB dan Badan Wakaf Al Quran, pembangkit sederhana buatannya akhirnya berganti dengan pembangkit yang lebih modern dan mampu memproduksi listrik yang lebih besar yakni 50 KVA.

Harianto pun mendirikan Yayasan Desa Mandiri Nusantara dan PT MandiriPRO Nusantara untuk memenuhi kebutuhan desa-desa tertinggal di nusantara ini.

Niat tulus untuk menerangi kampungnya, akhirnya menjadi modal untuk menjalani kehidupan sebagai entrepreneur di bidang energi dengan menggunakan bendera PT MandiriPRO Nusantara. Sekaligus untuk memenuhi kebutuhan desa-desa tertinggal di nusantara ini. “Alhamdulillah sudah banyak yang menggunakan jasa kami untuk dibangunkan pembangkit. Kadang juga tidak menggunakan nama kami, tetapi kami yang memberikan dukungan teknis sampai pembangkit itu beroperasi,” kata dia lagi.

“Kita membantu membangun badan usaha desa yang mengelola pembangkit itu. Mereka pula yang bertugas sebagai PLN-nya di desa,” ujarnya.

Badan usaha itulah yang setiap bulan memungut biaya penggunaan listrik. Dana yang terkumpul tersebut digunakan untuk melakukan maintenance dan operasional pembangkit. (*)

Loading...

#TRENDING

To Top