Untung dan Rugi Bank Sulselbar Jika Menjadi Bank Devisa

  • Whatsapp

MAKASSAR, UPEKS.co.id— Rencana Bank Sulsebar menjadi bank devisa rupanya menjadi bola panas bagi Direktur Utama (Dirut) Bank Sulselbar Andi Muhammad Rahmat. Target yang dinilai belum menuai progres signifikan ini menjadi salah satu alasan bagi Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, selaku pemegang saham pengendali Bank Sulselbar untuk memberhentikan dirut bank pelat merah ini.

Lantas sejauh mana kesiapan Bank Sulselbar, sebagaimana untung dan ruginya bila menjadi bank devisa. Pengamat Keuangan Negara Universitas Patriarta Bastian Lubis yang dimintai komentar menjelaskan, bank devisa adalah bank yang memperoleh surat penunjukan dari otoritas keuangan dan Bank Indonesia untuk dapat melakukan kegiatan usaha perbankan dalam valuta asing.

Bacaan Lainnya

Bank devisa dapat menawarkan jasa-jasa bank yang berkaitan dengan mata uang asing tersebut seperti transfer keluar negeri, jual beli valuta asing, transaksi ekspor-impor, dan jasa-jasa valuta asing lainnya.

“Jika dilihat dari pengertian ini maka sebenarnya bank devisa dapat mengibarkan sayapnya hingga ke luar negeri, namun yang harus dicatat kesiapan sebuah bank untuk mengemban tugas sebagai Bank Devisa,” jelas Bastian.

Dewan Pengarah Yayasan UPA ini mengambil contoh sederhana jika komposit risiko bank non Devisa untuk risiko nilai tukar valas yang sebelumnya tidak ada, dengan menjadi bank devisa maka Inherent Risk (Risiko yang melekat) akan meningkat.

“Dengan melebarkan sayap bisnis bank, maka bank devisa harus siap untuk melakukan mitigasi terhadap berbagai risiko yang mungkin dapat terjadi sewaktu-waktu. Pertanyaannya, seberapa besar cadangan modal bank yang harus ditambah untuk mengantisipasi risiko nilai tukar tersebut,” kata Bastian.

Belum lagi perubahan perilaku “dealing room” lanjut Bastian Lubis, jika dalam ruang treasury yang sebelumnya hanya memuat IDR saat ini harus berurusan dengan US$, Euro, Yen, dan berbagai mata uang dunia lainnya.

“Pertanyaannya apakah SDM yang ada telah siap mengelola hal tersebut karena risiko operasional akan berubah seiring dengan perkembangan bisnis. Belum lagi dengan membuka pintu datangnya dana asing maka pastilah harus dapat dikelola dengan baik dan maksimal sehingga tidak membebani cost of fund yang dimiliki oleh bank karena fungsi intermediasi yang lambat. Jika dari dua gambaran risiko tadi saja sudah harus menjadi konsentrasi penting. Bagaimana dengan risiko strategi yang akan dilakukan sebelum dan sesudah menjadi bank devisa. Dengan kata lain stress test terhadap perubahan wajib dilakukan lebih matang sehingga kehilangan modal dapat di eliminir dengan Baik. Hal ini haruslah menjadi perhatian strategic Bank pasca menjadi bank devisa,” tutup Bastian.

Diketahui pihak Bank Sulselbar sebelumnya menyatakan kesiapan untuk menjadi bank devisa. Bahkan sudah mengajukan permohonan untuk menjadi bank devisa ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hanya saja, karena adanya persyaratan yang baru dipenuhi, keputusan dari OJK belum memberikan status bagi Bank Sulselbar untuk jadi bank devisa. (rls)