EKONOMI BISNIS

Yuk ke Festival Imigrasi Ikan Baronang di Wakatobi

Makassar, Upeks–Ada festival unik dan menarik di Wakatobi, Sulawesi Tenggara pada Oktober nanti. Namanya Featival Lalo’a, yaitu festival imigrasi ikan baronang.

Festival Lalo’a diselenggarakan secara kolaborasi oleh Pemerintah Desa Liya Togo, Liya Mawi, Liya Bahari, Liya One Melangka, Wisata Kolo, komunitas kreatif lokal, didukung Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Balai Taman Nasional Wakatobi, dan organisasi-organisasi profesi.

Kegiatan itu digelar selama tiga hari berturut-turut, acara yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Wakatobi ini akan diselenggarakan pada
11-13 Oktober 2019.

Festival Lalo’a adalah salah satu tradisi yang menjadi wisata budaya masyarakat adat Liya. Dalam bahasa masyarakat adat Liya, Wakatobi, Lalo’a berasal dari kata lalo yang artinya lewat, atau melalui.

Akhiran ‘a’ pada kata lalo’a menunjukan kata kerja. Jadi lalo’a dapat dimaknai sesuatu yang sedang lewat atau tempat lewat (jalan). Tradisi lalo’a ditandai dengan kedatangan (migrasi) ikan baronang (rabbitfish) atau borona (nama lokal) yang tak terhingga jumlahnya ke kawasan perairan pesisir, di wilayah laut desa adat Kadie Liya.

Peristiwa itu terjadi pada bulan September sampai November tiap tahun, tanggal 9 sampai tanggal 11 bulan Hijriah. Hal inilah yang menginspirasi masyarakat adat Kadie Liya untuk menyelenggarakan Festival Lalo’a. Festival ini merupakan suatu bentuk perayaan musim migrasi ikan borona.

Dalam tradisi ini, akan diisi dengan kegiatan adopsi telur ikan borona yang akan berlangsung pada puncak acara festival adopsi, dilakukan dengan cara lelang ikan hasil lalo’a. Ikan yang ditangkap dan tidak memiliki telur lagi dalam perutnya, akan dilelang dengan harga tinggi. Sedangkan ikan yang masih memiliki telur tidak bisa dibeli.

Keunikan tradisi ini, ada pada proses lelang yang dilakukan melalui tradisi sampe’a (pertunjukan drama kolosal sampe’a). Sampe’a adalah tradisi persembahan hasil panen antar kampung. Bisa dikatakan, Sampe’a adalah semacam persaingan hasil panen, namun pada akhir sampe’a, kampung yang paling banyak menerima (dibawakan) hasil panen justru dinyatakan sebagai pihak yang kalah (artinya miskin hasil panen) untuk musim panen tahun itu.

Dalam festival ini, sampe’a hanya ditampilkan sebagai drama. Hasil panen yang dipersembahkan adalah ikan hasil lalo’a. Pada akhir drama sampe’a, ikan yang dipersembahkan akan dilelang, lalu diberikan kepada anak yatim, janda miskin, dan keluarga miskin yang telah diorganisir panitia. Ini sebagai perwujudan kearifan tradisi dawu (bagian) untuk anak-anak yatim atau para perempuan miskin dalam hasil tangkapan nelayan. (*)

Loading...

#TRENDING

To Top