IDE Institut Semarakkan HUT RI Ke-74 di Enrekang

  • Whatsapp

IDE Institut Semarakkan HUT RI Ke-74 di Enrekang

ENREKANG, UPEKS.co.id —Semarak Perayaan Proklamasi RI ke 74 Di Kabupaten Enrekang juga diramaikan  dengan hadirnya Ikatan Difabel Enrekang Institut ( IDE Institut) yang ikut ambil bagian dalam pelaksanaan Pawai.

Bacaan Lainnya

Paluphy Machmud Ketua IDE Institut mengatakan ini adalah satu – satunya kelompok Difabel di Sulsel yang ikut menyemarakkan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Dibawah arahan Paluphy selaku Pimpinan IDE, sebanyak 28 orang berkebutuhan khusus ini mengikuti pawai di  dua titik yaitu Cakke dan Kotu, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang.

Paluphy mengatakan, keikutsertaan kelompok Difabel ini adalah ingin membuktikan meski mereka secara fisik tak
sama dengan manusia sempurna namun mereka juga punya hak yang sama untuk memaknai dan mewarnai Perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia.

Dia mengatakan, ingin merombak pola pikir masyarakat tentang keberadan para penyandang Disabitas yang  selama ini dianggap tak memiliki kemampuan untuk bisa berkarya sama dengan manusia sempurna.

Padahal menurutnya, mereka juga diberi kemampuan oleh Tuhan untuk bisa membantu dirinya sendiri dan orang
lain ditengah keterbatasan fisik mereka.

Para Difabel harus diberikepercayaan untuk mengembangkan potensinya sehingga masyarakat tak lagi menganggapnya sebagai beban keluarga.

” Ini yang mendorong saya untuk menghadirkan mereka dalam kegiatan 17 Agustus. Saya ingin membuka pola
pikir masyarakat tentang Difabel yang selama ini selalu dikesampingkan. Saya ingin masyarakat sepenuhnya bisa
terima kehadiran teman – teman dan mensejajarkan sama dengan mereka yang memiliki fisik sempurna”. Kata
Paluphy.

Luphy mengatakan Kemedekaan bagi para penyandang Difabel di Enrekang belum sepenuhnya dirasakan.

Difabel masih dianggap masyarakat kelas 2, bahkan beberapa Instansi terkait Luphy mengaku Difabel hanya dijadikan sebagai obyek saja.

” Ya beberapa Instansi seperti Dinas Sosial seharusnya mendorong kita agar setara dengan golongan lain. Tapi
malah kita dijadikan obyek”. Ungkapnya. ( Sry).

Pos terkait