ANEKA

Generasi Milenial Pionir Bisnis Digital

Generasi Milenial Pionir Bisnis Digital

Pendiri Mallsampah, Adi Saifullah Putra saat memperkenalkan Mallsampah dan sistem kerjanya. (Foto: Ist)

MAKASSAR, UPEKS.Co.id— Dunia saat ini memang tengah menghadapi revolusi industri 4.0 secara global. Berjuta peluang ada di situ, tapi di sisi lain terdapat berjuta tantangan yang harus dihadapi.

Tren ini telah mengubah banyak bidang kehidupan manusia, termasuk ekonomi, dunia kerja, bahkan gaya hidup manusia itu sendiri. Revolusi 4.0 menanamkan teknologi cerdas yang dapat terhubung dengan berbagai bidang kehidupan manusia.

Revolusi industri 4.0 akan membawa banyak perubahan dengan segala konsekuensinya, industri akan semakin kompak dan efisien. Namun, ada pula risiko yang mungkin muncul, misalnya berkurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) karena digantikan oleh mesin atau robot seperti di negara maju.

Jika hal itu, tak diantisipasi pemerintah, maka pengangguran akan terjadi di mana-mana dan ini menjadi masalah dan ancaman besar buat negara.

Tetapi, syukurlah di Indonesia masih sangat manusiawi. Manusia yang masih menjalankan teknologi. Manusia tetap yang makmur dan maju. Bukan robot. Jadi teknologi dihadirkan untuk kebutuhan kemakmuran manusia.

Revolusi industri keempat ini akan ada perubahan ekspektasi konsumen yang harus diimbangi dengan inovasi, perbaikan produk, dan jasa. Antisipasi dari pemerintah adalah dengan menciptakan lapangan pekerjaan. Karena era revolusi industri 4.0 sudah tidak bisa dihindari lagi. Indonesia mau tak mau harus siap menghadapi era industrialisasi.

Masuknya era revolusi industri 4.0 menjadi momen penting bagi Indonesia dalam memacu kompetensi SDM. Untuk itu, diperlukan upaya pengembangan transformasi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

Tak heran, jika Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat menjadi pembicara pada acara Creative Industries Movement di Denpasar, beberapa waktu lalu, menegaskan bahwa era industri 4.0 mendorong pemerintah untuk segera melakukan empowering human talents.

“Pemerintah harus terpacu untuk fokus memperkuat generasi muda kita dengan teknologi dan inovasi,” tegasnya.

Menperin menilai, generasi milenial sangat berperan penting dalam menghadapi industri 4.0. Apalagi, Indonesia akan menikmati masa bonus demografi hingga tahun 2030. Di mana sebanyak 130 juta jiwa yang berusia produktif dapat mengambil kesempatan baru untuk mengembangkan bisnis di era digital.

Belajar dari pengalaman negara lain, seperti China, Jepang, Singapura dan Thailand, ketika mengalami bonus demografi, pertumbuhan ekonominya tinggi. Maka itu, Indonesia perlu mengambil momentum masa keemasan tersebut dengan terus membangun semangat optimisme.

Bangun SDM Lewat Pendidikan Vokasi

Sejalan dengan rencana pemerintah untuk fokus ke pembangunan SDM, amat diharapkan hal itu juga mencakup SDM untuk pengembangan industri kreatif. Namun, pembangunan SDM pada industri kreatif dalam konteks ini agak berbeda dengan pembangunan SDM untuk kegiatan lainnya.

Pemerintah harus maksimal membenahi dan menggenjot pendidikan vokasi mulai dari tingkat SMK hingga Perguruan Tinggi (PT) agar nantinya lulusan SMK dan PT dapat berkualitas dan siap bekerja, bahkan bisa mandiri untuk menciptakan lapangan kerja.

Secara umum, pembangunan SDM yang kini gencar dilakukan pemerintah melalui pendidikan vokasi ialah untuk meningkatkan keterampilan teknis sesuai dengan kebutuhan pasar kerja (link and match). Namun, untuk pembangunan SDM pada industri kreatif, aspek yang amat dibutuhkan ialah bukan pada aspek peningkatan keterampilan teknis, melainkan pada peningkatan kemampuan pengelolaan usaha dan pemasaran produk agar dapat lebih optimal pada kegiatan ekonomi kreatif dan membuka peluang berusaha mandiri.

Secara faktual, hal itu sekaligus menegaskan bahwa pembangunan SDM pada 2019 tidak harus selalu dikaitkan dengan orientasi bekerja di sektor formal. Pembangunan SDM juga perlu diarahkan pada penciptaan kegiatan usaha secara mandiri, terutama di industri kreatif.
Selain jenis keterampilan yang cukup spesifik dalam pembangunan SDM, penentuan target pembangunan SDM dalam industri kreatif juga perlu dilakukan secara eksklusif.

Dalam konteks ini, barangkali target utama pembangunan SDM untuk industri kreatif ialah para pelaku usaha dan pekerja industri kreatif, dan peminat untuk melakukan kegiatan usaha di  industri kreatif, khususnya penganggur milenial.

Sangat diharapkan, upaya pengembangan industri kreatif dapat segera terwujud untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, perluasan kesempatan kerja, dan peningkatan kesejahteraan.

Meski tenaga kerja industri kreatif dapat bertahan di era industri 4.0, peningkatan SDM dalam pengelolaan usaha dan pemasaran perlu ditingkatkan agar optimal meningkatkan nilai tambah (value added) dalam kegiatan ekonomi kreatif.

Entrepreneur Muda Inovatif dan Mandiri

Pendidikan vokasi melahirkan generasi muda yang cerdas. Terutama saat ini, era digital memunculkan para pelaku bisnis startup yang sebagian besar didominasi para anak muda.

Di Indonesia sendiri saat ini sudah banyak bermunculan entrepreneur muda yang kreatif, inovatif dan mandiri. Dalam hal ini, menciptakan bisnis startup yang memiliki inovasi dan kreativitas tanpa batas.

Hadirnya bisnis startup membuat generasi muda semakin inovatif. Sebagian generasi milenial sudah mulai mengurangi kegiatan tak bermanfaat, bahkan meninggalkan kegiatan santai dan beralih ke kegiatan yang positif untuk masa depan. Mereka sadar atas apa yang dilakukan sebelumnya hanya membuat hidupnya membuang waktu percuma, bahkan bisa dibilang sulit mencapai sukses.

Bisa dilihat, kian kesini banyak startup bermunculan di Indonesia. Nah, itulah yang sekarang ini dilakukan para generasi millenial, yaitu berlomba-lomba mencapai kesuksesan dengan merintis perusahaan di berbagai bidang yang dikuasainya, seperti fintech, media dan sebagainya.

Banyaknya pesaing, tentulah bukan menjadi hal yang mudah dihadapi bagi setiap startup. Hal ini terlihat sangat jelas, melakukan berbagai macam strategi serta tips jitu agar startup terus berjalan dan semakin berkembang.

Generasi Milenial Pionir Bisnis Digital

Adi Saifullah Putra kompak bersama para mitra atau pengepul Mallsampah (Foto: Ist)

Salah Pendiri Mallsampah, Adi Saifullah Putra alumni S1 Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini, mengatakan dirinya tertarik menekuni bisnis startup dan melirik masalah sampah. Mallsampah lahir untuk menjadi solusi atas masalah sampah yang dirasakan masyarakat.

“Mallsampah didirikan pada tahun 2015 ketika itu bisnis startup tengah digandrungi, banyak yang mulai bermunculan,” kata Adi kepada Upeks di Makassar, baru-baru ini.

Sebagai seorang aktivis, Adi yang tinggal inde kos di gang sempit Kota Makassar, problem sampah setiap hari dirasakan langsung. Hal ini bertolak belakang dengan dirinya yang sering bersuara lantang di luar, jika tak mampu mengatasi masalah sampah di sekitar kosnya tersebut.

“Nah dari situ lahirlah Mallsampah. Saya rancang ide dan bisnis. Ide dan bisnis itu saya kolaborasikan dengan teman di bidang IT,” terang Adi yang tengah melanjutkan studi pada Program Magister Ilmu Hukum Pascasarjana UMI Makassar ini terus berupaya mengembangkan cakupan bisnisnya.

Tahun 2019 ini, platform bisnis Mallsampah terus berkembang dengan memiliki banyak mitra (pengumpul) tak hanya dari Kota Makassar tetapi juga dari seluruh Indonesia yang jumlah kini mencapai ribuan.

Selain rumah tangga, Mallsampah juga merambah pelanggan dari dunia industri perhotelan dan retail. Mallsampah diakuinya bisa mengcover sampah daur ulang se-Kota Makassar. Serta berlanjut ke kota besar lainnya di Indonesia. Bisnis ini juga menguntungkan mitra/ pengepul dan pelanggan.

“Mallsampah adalah flatform yang melayani jual beli sampah untuk daur ulang. Pengepul membeli sampah dari pelanggan dan dijual kembali ke pelaku industri daur ulang. Mallsampah mengakomodir jual beli sampah dengan jenis plastik, kertas, aluminium/kaleng, sampah elektronik, besi dan botol kaca” terangnya.

Mallsampah memiliki visi menjadi solusi bagi permasalahan sampah dan daur ulang di Indonesia sekaligus meningkatkan martabat dan kesejahteraan hidup pengepul/pemulung di Indonesia.

Layanan ini menghubungkan masyarakat dengan pengepul. Pelanggan yang mengorder atau menjual sampah akan dijemput langsung pengepul yang menjadi mitra Mallsampah.

“Untuk order bisa langsung membuka website Mallsampah dan klik layanan jual sampah. Semoga kehadiran Mallsampah, masyarakat bisa mandiri menghasilkan uang tambahan setiap hari, sekaligus memberi kontribusi bagi lingkungan dan sosial,” harap Adi.

Entrepreneur muda lainnya, Andi Ardiansyah Djaka selaku CEO & Founder hukumdigital.com, menilai generasi milenial memiliki peranan sangat besar dalam perkembangan dunia digital.

Generasi Milenial Pionir Bisnis Digital

Foto:IST

Mereka dianggap sangat aktif menggunakan teknologi untuk kegiatan bisnis. Karena sadar besarnya peranan mereka, kata Andi Ardiansyah cukup banyak generasi milenial yang  menggeluti bisnis startup.

Rian sapaan akrabnya, tertarik menjalankan bisnis pada sektor yang berbeda dari generasi muda umumnya. Dia memilih bidang hukum yang dirintis sejak Agustus 2018 lalu.

“Usaha ini berbasis website dengan laman hukumdigital.com. Bisnis terlahir karena banyaknya usaha belum memiliki legalitas”, kata Pria kelahiran  Makassar, 6 Oktober 1994 ini.

Bisnis ini dijalankan sesuai disiplin ilmunya sebagai Magister Hukum UMI. Ia sangat prihatin dengan problema banyak pengusaha UMKM yang mengesampingkan legalitas usaha.

“Muncul ide untuk membuat flatform agar memudahkan pelaku UMKM dalam mengurus legalitas badan usahanya,” ujarnya.

Ide yang muncul juga lain dengan bisnis konvensional. Calon klien tak harus datang ke kantor-kantor firma hukum, tetapi bisa konsultasi secara online.

Hukum Digital memberikan tiga pelayanan kepada masyarakat, yakni bagi masyarakat yang membutuhkan pengacara, pelayanan pengurusan legalitas badan usaha dan program pendidikan hukum.

Andi Ardiansyah bercita-cita menjadikan Hukum Digital sebagai platform hukum di Indonesia. Sehingga masyarakat mendapatkan bantuan hukum dengan sistem yang mudah.

Hukum digital juga memiliki target dalam waktu dekat ini. Rian ingin menambah layanan perizinan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Pengusaha sering keluhkan soal izin BPOM. Dan kedua soal sertifikasi halal. Jadi, intinya kami membantu para pengusaha untuk memperoleh legalitas dalam berusaha sehingga tercipta kemandirian ekononi untuk kemajuan bangsa di era revokusi industri 4.0,” tandasnya.

Ekonomi Kreatif Jadi Solusi Cerdas Kemandirian Bangsa

Kehadiran para generasi milenial mengambil peran dalam industri kreatif dapat berkontribusi nyata dalam pengembangan perekonomian lokal dan nasional.

Para entrepreneur muda ini perlu didorong pengembangannya, agar terus kreatif menciptakan karya inovasi.

Seperti munculnya bisnis startup menjadi motivasi para generasi milenial untuk menciptakan usaha agar bisa mandiri. Mereka pun seakan berlomba berinovasi untuk mendukung ekonomi kreatif.

Menurut Andi Ardiansyah, semangat kreatif dan inovatif dari generasi milenial ini seharusnya didukung penuh pemerintah. Mereka harus mendapatkan perhatian, pembinaan dan pengembangan. Salah satunya memberikan workshop, pelatihan hingga bantuan modal usaha.

“Pemerintah harus peka dan peduli terhadap generasi milenial. Meminimalisir pengangguran harus dengan cara mengkreatifkan agar mereka bisa mandiri, bahkan menciptakan lapangan kerja baru buat yang lainnya,” jelasnya.

Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulsel, Malik Faisal terus gencar melakukan berbagai kegiatan untuk menggairahkan kreativitas pengusaha muda di Kota Makassar, Sulsel. Seperti mengadakan pelatihan dan workshop ekonomi kreatif. Bagi yang baru merintis diberikan suntikan dana bantuan usaha jika memenuhi persyaratan sesuai dengan prosedur.

“Kita selalu berupaya untuk membantu entrepreneur muda dalam berusaha. Intinya membuat mereka bisa mandiri,” tandasnya.

Membuat generasi milenial mandiri merupakan solusi cerdas dan tepat untuk mengurangi pengangguran di tanah air. Serta paling utama mempersiapkan generasi milenial sebagai pionir bisnis digital dalam menghadapi “Industri Kreatif 4.0 untuk Kemandirian dan Daya Saing Bangsa”. (*)

 

#TRENDING

To Top