ANEKA

Pimpinan UMI Apresiasi Haul KH Ramly, Pejuang NU dan Pendiri UMI

JAKARTA,UPEKS.co.id—Haul para Pejuang NU terlaksana berkat kerjasama PBNU dan Majelis  Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) di Kantor.PBNU Jakarta, Rabu ,10 April.2019

Hadir Rais ‘Aam PBNU KH Miftakhul Akhyar; Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Tsaquf; Sekjen PBNU, H Helmy
Faishal Zaini; Wakil Ketua MPR RI, Muhaimin Iskandar; Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad
Nasir; dan Menteri Ketenagakerjaan, Hanif.

Turut hadir, dari UMI , Ketua Pembina yang juga putra KH Muhammad Ramly, Prof. Dr. H Mansyur Ramly, SE MSi.,
Ketua Pengurus Yayasan Wakaf (YW) UMI, H.M Mokhtar Noer Jaya SE MSi, Wakil Ketua Pendidikan YW UMI
Prof. Dr Hj Masrurah Mokhtar MA.

Turut hadir, Sekertaris Pengurus Dr Ir H Lambang Basri, MT, Sekretaris Pengawas.Prof.  Dr H Syahrir .Mallongi SE MSi, Rektor UMI Prof. Dr H Basri.Modding SE Msi, Wakil Rektor,Asdir II PPs UMI Prof.  Dr H Sufirman.SH MH

Wakil.Ketua MPR RI menjelaskan, Haul dikalangan NU hal biasa, namun haul kali ini memiliki keistimewaan
dilaksanakan bagi para pejuang NU yang dalam hidupnya berperan aktif di kancah nasional.

”Kadang kita tidak pernah ingat atas jasanya, karena itu malam ini kita hadir untuk mendoakan beliau secara
berjamaah. Insya Allah mendapatkan tempat yang layak disisi-Nya,” ujarnya.

Insya Allah, Juli 2019. di Gedung MPR yang.memuat 7000 kita akan ge lar haul pejuang NU. para ulama  masyahid insya allahdiharapkan mengalir pahalanya.

Dikatakannya, 294 ulama yang tercacat dalam backdrop telah berkiprah untuk kejayaan NU. Kami yakin masih  banyak ulama para tokoh yang dalam hidupnya telah berjuang untuk NU, duta besar yang memperjuangkan NU.

Karena itu tidak hanya 294 tapi seluruh ulama, tokoh agama tokoh.masyarakat yang telah berjuang untuk kejayaan
NU, kita semua berdoa dalam cahaya di sisi allah di syurga berkumpul bersama Haul untuk pejuang NU.

Bangsa yang besar menghormati para pahlawannya. NU makin besar dan menghormati ulama-ulamanya.

Siapapun yang memperjuangkan NU akan jadi murid mbah Hasyim dan menjadi husnul khatimah.

Sementara itu, Ketua Umum.PBNU NU, Prof. Dr Agil.Siradj MA menjelaskan, dua hal yang harus diperjuangkan
nahdliyin, membangun himmah dan azimah.

Dalam diri manusia terdapat dua jenis hawa nafsu yang menjadi perangkat, yakni nafsu ghadlabiyah dan
syahwatiyah. Kita ini yang kurang membangun himmah dan membangun azimah.

Nafsu ghadlabiyah merupakan ambisi yang besar, seperti menjadi pejabat, ketua umum partai politik, ataupun
ketua umum organisasi. Tetapi, jika seseorang mempunyai niat, cara dan tujuan yang baik terhadap ambisi  tersebut, itulah himmah.

Hosting Unlimited Indonesia

“Kalau niatnya baik, kalau caranya baik, gak nyakitin siapa-siapa; dan tujuannya baik , maka ketika berhasil  menjadi yang kita mauin, (namanya) bukan nafsu ghadlabiyah, (tapi) namanya himmah.

Sementara nafsu syahwatiyah ialah ambisi untuk memiliki banyak harta, seperti mempunyai perusahaan, rumah
mewah, dan kendaraan yang bagus, tetapi kalau niat, cara, dan tujuannya baik tidak lagi disebut dengan nasfu
syahwatiyah, melainkan azimah.

Sebelumnya Kiai Said menegaskan, bahwa pembacaan tahlil untuk para pejuang NU diterima Allah Swt. Sebab, rahmat Allah terbuka. Allah menerima amal hamba-Nya sekalipun amalnya tidak sempurna.

Ia juga menyakini, kelak di akhirat, Nahdliyin berkumpul dengan para pejuang NU, seperti Mbah Hasyi Asy’ari, KH
Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri, dan KH Romli. “Kita yakin, kita ini min ahlil haq. Insyaallah min ahlil
Jannah, ikut beliau-beliau yang telah berjuang untuk NU.

Sementara itu, Rektor UMI, Prof. Dr H Basri Modding SE MSi mengemukakan, kehadirannya memenuhi  undangan PBNU. Salah seorang pendiri NU, almarhum KH Muh.Muhammad Ramly juga Pendiri NU dan juga  ayahanda Prof. Dr. H Mansyur Ramly, SE Msi (Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI).

Kelahiran UMI berawal dari keprihatinan dan kegelisahan tokoh masyarakat, alim ulama dan para raja di Sulawesi,
khususnya di Makassar. Pasalnya, ketika itu, belum ada perguruan tinggi Islam, padahal pendudukmayoritas
muslim.

Pertengahan 1952, ide mendirikan perguruan tinggi Islam mulai bergulir. Sejumlah tokoh masyarakat  menghubungi para raja di daerah ini, seperti H. Andi Mappanyukki (Raja Bone), H. Andi Jemma (Raja Luwu) Andi  Ijo Karaeng Lalolang (Raja Gowa) dan Pajonga Karaeng Polongbangkeng (orang terkemuka di daerah  Polongbangkeng),

Selain itu, rencana tersebut disampaikan ke Gubernur Sulawesi dan Walikota Makassar. Alhamdulillah, gagasan
itu disambut baik dan para raja bersama pemerintah siap membantu mewujudkan cita-cita luhur tersebut.

Kehawatiran mereka mulai sirna ketika para tokoh masyarakat, alim ulama dan para raja (pemerintah) di Sulawesi  sepakat untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi Islam yang bernama “Universitas Muslim Indonesia”.
Peresmian pendirian UMI di Gubernuran Makassar 23 Juni 1954.

Kegiatan ditandai penandatangan Azas Piagam  Pendirian UMI oleh K.H. Muhammad Ramly (Dewan Mahaguru), La Ode Munarfa (Dewan Kurator), Sutan  Muhammad Yusuf Samah (Badan Wakaf) dan Chalid Husain (Sekretaris).

Hadir menyaksikan, S.N. Turangan (Wakil Menteri P dan K), H. Muhammad Akib (mewakili Kementrerian Agama),
Andi Burhanuddin (mewakili Gubernur Sulawesi), serta Ahmad Dara Syahruddin (Walikota Makassar).

UMI yang dibina oleh Yayasan Wakaf UMI dengan ciri khasnya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah mengemban tugas melahirkan sumberdaya manusia yang berilmu amaliah beramal ilmiah dan berakhlakul  karimah. (rls).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#TRENDING

To Top