Warga Keluhkan Air PDAM Jeneponto Bau dan Keruh

  • Whatsapp
Warga Keluhkan Air PDAM Jeneponto Bau dan Keruh

JENEPONTO, UPEKS.co.id – Warga Kabupaten Jeneponto, saat ini  mengeluhkan pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jeneponto. Air kadang keruh dan berbau. Kondisi ini sudah berlangsung sebula  terakhir.

Air yang digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari itu berwarna keruh kekuningan, berbau dan membuat gatal-gatal saat mandi.Nursiah (50) warga Lingkungan Lembangloe, Kelurahan Balang, Kecamatan Binamu mengatakan, bahwa dia kesulitan memasak karena air yang bersumber dari PDAM karena tidak bersih dan mengeluarkan bau kurang sedap.

Bacaan Lainnya

“Bahkan kalau dibuat memasak nasi, nasinya sedikit kekuning-kuningan,” katanya, Selasa (5/3/2019).

Untuk itu, dia memilih menggunakan air mineral isi ulang jika akan memasak. Kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Padahal tiap kali isi ulang, harga per galon sekitar Rp 5.000.

“Satu galon bisa digunakan selama satu hari. Itu hanya untuk masak dan kebutuhan minum,” lanjutnya.

Mansyur (32) warga Kampung Paceko, Kelurahan Balang, Kecamatan Binamu menambahkan, air PDAM dalam tampungan kamar mandi rumahnya selalu keruh dan bercampur lumpur.

“Pagi-pagi saat mau salat subuh itu pasti saya lihat di kamar mandi sudah berwarna keruh agak kekuning-kuningan. Jadi rasanya tidak nyaman untuk digunakan,” kata dia.

Selain air berwarna kekuning-kuningan, air juga bau. Terutama saat pagi hari, bisa dipastikan air yang bak maupun dalam tampungan air juga bau busuk menyerupai air hangat. Padahal, menurutnya, bak mandi serngkali dibersihkan.

“Padahal kamar mandi selalu rutin saya bersihkan setiap tiga hari sekali, tapi ya sama saja. Air tetap keruh dan bau, serta bercampur lumpur,” paparnya.

Kondisi air itu bahkan membuat kulit gatal saat dibuat mandi. Dia pun mengaku menyediakan bedak anti gatal, yang digunakan secara rutin seusai mandi.

Padahal, dia harus mengeluarkan sekitar Rp90ribu sampai Rp150 ribu buat membayar langganan air PDAM per bulan.

“Habis mandi itu kulit terasa gatal-gatal, jadi buat antisipasi harus memakai bedak dan pelembab anti gatal-gatal,” ungkapnya.

Sementara Pjs Direktur PDAM Jeneponto Junaedi saat di konfirmasi membantah jika pihaknya tidak pernah memperhatikan kualitas air. Pihaknya, tetap mengutamakan ketersediaan bahan kimia seperti kaporit dan tawas.

Kalau terjadi kekeruhan air, dia tidak menampik bahwa biasanya kesalahan operator ketika memberi bahan kimia di instalasi pengolahan air.

Selain itu, kata Junaedi, kekeruhan air sering terjadi karena faktor alam. Biasanya takaran kaporit dan tawas sudah sesuai dengan taksiran berdasarkan debet air. Namun karena terjadi hujan yang mengakibatkan air sungai keruh, makanya bercampurlah air dalam pengolahan yang sebenarnya sudah bersih yang siap dialirkan tapi keruh kembali, tandasnya. (Lau)