Jokowi-Prabowo Belajar Sabar dan Adil dari Yudhistira

  • Whatsapp

oleh: Kanti Walujo dan Ruslan Ramli
(Dosen Universitas Esa Unggul)

Pilpres 2019 tinggal sebulan lebih. Kontestasi antara Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi kian memicu adrenalin. Media massa tidak kehilangan momen  memburu informasi kedua kubu untuk mendapatkan berita menarik. Semua demi khalayak.

Bacaan Lainnya

Sosok Jokowi dan Prabowo adalah patron bagi kubu TKN dan BPN dalam mengatur langkah politik yang penuh intrik dan kejutan. Dramaturgi berlaku demi  menarik perhatian rakyat. Keduanya tampil sebagai tokoh hebat yang bakal menyejahterakan Indonesia.

Baik Jokowi maupun Prabowo diplot sebagai pemimpin masa depan yang membawa kehidupan Indonesia jauh lebih baik dibanding sekarang. Mereka adalah  pahlawan bangsa, begitu kira-kiran jargon yang melekat padanya. Bagaimana sosok pemimpin yang diperlukan bagi Indonesia terkini? Penulis memberi pilihan  alternatif melalui ketokohan Prabu Yudhistira, Maharaja Astina.

Banyak pelajaran penting yang bisa dipetik dari kehebatan Yudistira. Salah satunya ada sifat utama Yudhistira yang sabar dan adil. Dua kata itu melekat pada diri  putra sulung Pandu dan Kunti itu. Bersemayam kesabaran dan keadilan dalam raga dan jiwanya.

Orangnya pendiam tidak banyak bicara. Juga, bicaranya tidak direkayasa demi menarik perhatian orang. Jujur dan pasrah pula ia menghadapi cobaan hidup.  Karena jujur dan sabar disertai kepasrahan pada Sang Pencipta, ia mampu memenjarakan nafsu. Kesabaran tanpa kepasrahan belum dapat dikatakan sabar. Untuk  melukiskan kesabaran dan kepasrahannya, berikut sepenggal kisahnya.

Ketika itu Pandawa sedang berada di hutan Kamiaka. Mereka menjalani hukuman buang selama 13 tahun akibat tipu daya kaum Kurawa. Lapar dan dahaga serta  bahaya yang setiap saat mengancam merupakan derita yang amat sangat. Tetapi berkat keteguhan dan ketabahan serta tak putus-putusnya berdoa kepada Syang  Hyang Tunggal, semua itu dapat diatasi.

“Hemm, sampai kapan derita ini akan berakhir, si Duryudana keparat itu semakin besar kepala, “geram Bima”. “Baru tujuh tahun Sena. Tinggal enam tahun lagi,  sabarlah dik,” kata Yudhistira menghibur. “Kalau saja aku diberi izin kakang Yudhistira, sekarang juga aku gedor si laknat itu,” kata Bima penuh nafsu.

“Tulisan neraca Maha Agung tak dapat diubah lagi. Andaipun kita bertindak, tetapi tidak akan mengubah nasib, dik. Malapetaka ini harus kita jadikan pelajaran  untuk memperkuat jiwa dan pikiran agar siap menghadapi segala tantangan hidup, “ujar Yudhistira. Sabar kepasrahan Yudhistira membuat adik-adiknya tunduk  tak berani membantah.

Pada suatu hari musibah menimpa keluarga Pandawa. Arjuna, Nakula, dan Sadewa ditemukan tewas setelah minum air kolam di tengah hutan itu. Rupa-rupanya  kolam itu ada penunggunya. Dengan perasaan sedih Yudhistira berkata “Duh dewata, siapa yang tega mencabut nyawa adik-adikku. Habislah harapanku untuk  merebut negeri Astina. Dinda Arjuna, kaulah andalan kami, tapi kini kau telah pergi untuk selama-lamanya. Apa dayaku,” ratapnya.

Tak lama kemudian terdengar suara tanpa rupa, “Mereka mati karena minum air kolam. Peringatanku tak dihiraukan.” “Oh, siapakah tuan?” tanya Yudhistira.
“Aku penunggu kolam. Saudaramu tak menghiraukan peringatanku agar tidak minum air itu,” jawabnya.

“Hamba mohon maaf atas kelancangan adik-adik hamba. Jika memang kematiannya sudah kehendak Hyang Pinasti, hamba relakan. Tetapi kalau kematiannya  belum waktunya sudi kiranya tuan menolong menghidupkannya kembali,” pintanya. “Aku bersedia menghidupkan salah seorang di antara mereka asal engkau  bersedia menjawab pertanyaanku,”kata suara itu.

“Hamba akan menuruti kehendak tuan. Silahkan tuan bertanya barangkali hamba dapat menjawabnya.” “Baik, dengarkan. Pertanyaan pertama, “Siapa musuh  yang paling gagah suka membunuh tapi sukar dilawan?”

Menurut hamba, “Musuh yang paling gagah adalah hawa nafsu yang bersemayam didalam diri sendiri. Ia suka membunuh apabila diperturutkan keinginannya. Ia  sukar dilawan jika iman kita lemah,” jawab Yudhistira.

“Jawabanmu benar. Sekarang pertanyaan kedua, “Yang bagaimana orang baik itu dan bagaimana orang buruk itu?”
“Menurut hamba orang yang baik adalah orang yang berbudi luhur mau menolong yang susah dan kasih sayang terhadap sesama. Sedangkan orang yang buruk  adalah orang yang tak menaruh belas kasih dan tak berperikemanusiaan.”

“Benar, sekarang apakah yang tinggi ilmu itu orang yang pandai membaca kitab atau ngaji, orang alim atau karena keturunan?”
“Menurut hamba orang yang berilmu tinggi bukan karena ia pintar ngaji. Sebab meskipun pintar ngaji, ilmunya tinggi tetapi kalau pikirannya takabur suka ingkar  janji, dia bukan orang alim dan bukan pula orang baik, jawabnya.

“Jawabanmu semua benar. Sekarang pilih salah seorang mana yang harus aku hidupkan kembali,” kata suara itu. Yudhistira bingung siapa yang harus ia pilih.

Menurut kata hati Arjunalah pilihannya. Selain satu ibu, dia andalan jika ada kerusuhan. Tapi pilhan itu segera hilang dari ingatannya, manakala pertimbangan  rasa tertuju kepada si kembar yang sudah tidak beribu. Jika memilih Arjuna, selain akan sedih arwahnya, juga sangat tak adil. Maka akhirnya pilihan jatuh kepada  Nakula yang segera dia sampaikan kepada si penunggu kolam. “Hamba memilih Nakula, tuan,” “Mengapa engkau memilih Nakula. Bukankah Arjuna lebih  penting untuk tenaga andalanmu, lagi pula seibu?” tanya suara itu.

“Bagi hamba bukan soal penting atau tidaknya, tetapi keadilannya. Dengan memilih Nakula, maka kedua ibu hamba akan sama-sama merasa senang. Dari ibu  Kunti kehilangan Arjuna, sendangkan ibu Madrim kehilangan Sadewa. Bukankah pilihan itu cukup adil,” jawab Yudhistira.

“Benar-benar engkau kekasih Yang Manon. Kau manusia berbudi luhur, sabar, dan cinta keadilan. Tapi mengapa engkau lebih berat kepada adil daripada kasih  sayang?” tanyanya lagi.

“Sebab adil harus jauh dari sifat serakah. Jika hanya kasih atau sayang saja, maka ia akan menyalahkan yang benar membenarkan yang salah. Yang buruk seperti  bagus, yang kotor seperti bersih, yang dilihat hanya bagusnya saja. Wataknya masih suka menghilangkan kebenaran mengaburkan penglihatan,” Yudhstira  menegaskan pendiriannya.

Suara itu tak menjawab lagi, sebagai gantinya Batara Dharma, dewa keadilan telah berdiri di hadapan Yudhistira seraya bersabda, “Anakku, engkau benar-benar  mustikaning manusia. Sebagai imbalannya ketiga saudaramu kuhidupkan kembali,” tukasnya, yang tak lain adalah suara tanpa rupa tadi.

Betapa gembiranya Yudhistira dapat berkumpul kembali dengan adik-adiknya. Kemudian mereka melanjutkan pengembaraannya menyusuri hutan-hutan  belantara dengan tabah dan tawakal.

Kisah Prabu Yudhistira di atas adalah refleksi sosok pemimpin yang didambakan. Kesabaran dan keadilan adalah pelajaran penting yang diwariskan Yudhistira  kepada calon-calon pemimpin Indonesia. Bangsa Indonesia yang berulang kali ditimpa bencana menjadi ujian kesabaran. Tuntutan-tuntutan dari masyarakat  pinggiran adalah ujian keadilan. Apakah mampu sabar dengan rentetan ujian itu? Apakah mampu bersikap adil dengan pencari keadilan itu?

Jokowi dan Prabowo adalah dua putra terbaik Indonesia yang menunggu hari penasbihan rakyat. Siapapun yang terpilih kelak, pribadi Yudhistira adalah  dambaan rakyat. Kisahnya dapat dijadikan pedoman hidup dalam menyikapi permasalahan bangsa. (*).

Pos terkait