MAKASSAR CITY

Sampah Jadi Emas Pegadaian dan Kegigihan Faisal Merawat Lingkungan

“Saya tidak malu. Saya tidak mengajak warga jadi pemulung, tetapi mengolah sampahnya sendiri agar punya nilai dan mengurangi sampah di TPA,” kata Faisal. 

Penulis: Herman

Tampak Faisal Baso sedang menimbang setoran sampah kardus Rosmini, nasabah setia Bank Sampah di lingkungannya, Rabu (13/03/19). 

 

Faisal Baso bukanlah pemulung. Tetapi,
tumpukan kardus pipih dan karung berukuran besar berisi sampah plastik menjadi pemandangan lazim yang dijumpai di pekarangan rumahnya.

Memanfaatkan pekarangan yang hanya berukuran sekira empat kali dua meter tepat di bibir lorong, lelaki paruh baya itu tetap berupaya memaksimalkan ruang untuk menampung sampah-sampah yang disetor warga.

Aktivitas menimbang sampah dijalaninya  sejak dimandat menjadi Direktur Bank Sampah Oktober 2016 lalu. Ini tidak mudah. Sebab, selain harus pandai membagi waktu dengan rutinitasnya sebagai penjual ayam goreng. Jabatan Ketua Rukun Warga (RW) yang diembannya pun tetap Ia utamakan.

“Banyak yang angkat tangan mengurusi bank sampah. Bilang tdak ada tempat, timbangan, modal. Makanya, di Kelurahan Jongaya hanya dua bank sampah dari 14 RW. ,” kata Faisal saat disambangi Upeks di rumahnya, di Kelurahan Jongaya, Makassar, Rabu (13/03/19).

Baginya, gerutu bukan solusi. Niat menciptakan budaya bersih-bersih demi merawat lingkungan menjadi poin penting. Dan semangatnya semakin kukuh, saat PT Pegadaian (Persero) memilih tempatnya dalam program The Gade Clean and Gold.

“Awalnya, saya bahkan hanya pakai timbangan kue istriku,” kisahnya.

Pegadaian menghadirkan The Gade pada awal Desember 2018 lalu di Kelurahan Jongaya untuk memberikan pilihan baru bagi masyarakat lewat konversi nilai sampah menjadi tabungan emas.

Jadilah ruangan berukuran tiga kali tiga meter tepat di samping rumah Faisal dibikin kantor untuk mencatat administasi Bank Sampah. Susunan buku tabungan emas dan buku catatan utama Faisal tersimpan rapi di meja. Beberapa lembar daftar nama nasabah sudah terisi penuh.

Dukungan Pegadaian ini menjadi energi baru untuk semangatnya. Dulu, ia tak jarang menalangi uang warga yang tak sabar pencairan nilai sampahnya. Dan kini, Faisal proaktif menawarkan tabungan emas ke warga.

“Saya selalu tawarkan, tabungan emas. Saya sampaikan emas itu bagus karena nilainya terus naik. Apalagi tabungan emas, ya bisa diisi kapanpun. Beda dengan nyicil emas, wajib. Kalau lagi butuh bisa dicairkan kapan saja,” jelas Faisal.

The Gade Clean and Gold menjadi salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) Pegadaian untuk bersih-bersih, baik lingkungan, administrasi dan bersih hati. Ada tiga tujuan utama. Sampah jadi emas dapat meningkatkan nilai perekonomian, bersih lingkungan dan di dalamnya hadir kegiatan edukasi memperkenalkan tabungan emas Pegadaian.

“Kami ingin bersih-bersih ini benar-benar jadi budaya. Kalau sudah jadi budaya maka ngak ada lagi yang malu-malu. Budayanya budaya bersih Insya Allah kita akan dapat manfaat luar biasa,” kata Kuswiyoto, Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) saat menghadiri peresmian Program Bersih-Bersih Pegadaian di Kota Makassar di Kantor Camat Manggala Makassar, Selasa (5/3/19).

Kuswiyoto, Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) saat menghadiri peresmian Program Bersih-Bersih Pegadaian di Kota Makassar di Kantor Camat Manggala Makassar, Selasa (5/3/19).

Bank sampah di kantor Camat Manggala  adalah Bank Sampah kedua yang terintegrasi dengan The Gade Clean and Clear di Makassar. Menjadi yang ke-16 secara nasional. Di sana, Pegadaian memberikan sarana operasional Bank Sampah senilai Rp234.971.000.

“Rencana sampai April targetnya lima puluh sembilan (Bank sampah). Di seluruh tanah air,  kita ada lima puluh sembilan area. Minimal tiap area punya satu bank sampah,” tambah Kuswiyoto.

Bagi yang hanya mengejar profit, apa yang dilakukan Faisal mungkin berat. Hitung-hitungan nilai untung tentu tak masuk jika dibandingkan kebanyakan pekerjaan.

Butuh dibarengi niat menularkan nilai budaya cinta lingkungan, utamanya kebersihan dan ikut mengurangi bobot sampah yang menuju ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sederhana saja, sebab sampah identik dengan kotor dan bernilai murah.

“Saya tidak malu, karena saya tidak mendidik warga jadi pemulung, tetapi mengolah sampahnya di rumah sendiri saja agar bernilai dan mengurangi sampah di TPA,” tegas Faisal.

Untuk botol plastik air mineral misalnya, jika kondisi bersih (label hilang) dihargai Rp2.500 per kilogram. Cukup menyita waktu Faisal menimbang botol berkarung-karung untuk memperoleh selisih Rp500 per kilogramnya.

“Saya selalu mengajak warga untuk ikut berpartisipasi. Banyak juga yang mengeluh. Bilang kotorlah, harga tidak seberapa. Ada yang bilang tidak ada waktu. Oke, saya bilang kalau sibuk kita sedekahkan saja sampahnya ke saya. Jadi saya biasa bawa pulang kaleng susu dari penjual terang bulan (martabak manis). Tetangga di tempat jualanku,” katanya.

Giat Faisal tidak sia-sia. Secara bertahap, warga berpartisipasi. Jumlah nasabah bank sampah pun semakin bertambah. Yang aktif sudah puluhan. Diantaranya sudah memilih tabungan emas. Menularkan cinta lingkungan memang tidak bisa instan, Faisal memulainya dengan menjadi contoh bagi warganya.

“Tabungan emas 0,6 gram. Istriku juga 0,4 gram lebih. Ada yang malah sudah dua gram. Dia tambah saldo di bank sampahnya dengan uang tunai. Saya aktif transaksi. Tidak perlu besar volume timbangan, yang penting aktif. Kalau ada bisnis orientasi jatuhki,” tuturnya.

Kini, Faisal masuk dalam bursa RT/RW terbaik dan RW Caradde’ (cerdas) se-Kota Makassar. Keaktifan dalam penanganan masalah sampah untuk mendukung MTR adalah indikator utamanya Faisal bisa dipilih mengikuti kompetisi yang dihelat Pemkot Makassar tersebut

Tampak Rosmini tengah mengecek tabungan emasnya di kantor Bank sampah The Gade yang dinaungi Faisal. 

*Rosmini Kini Memilih Tabungan Emas*

Nasabah pertama bank sampah yang dinaungi Faisal adalah tetangganya sendiri. Ia Rosmini Zainuddin (43). Bagi ibu dari tiga orang anak ini, seolah-olah jadi orang paling sibuk adalah alasan klasik untuk tidak jadi nasabah bank sampah. Itu Ia patahkan dengan keuletannya.

Bisa menjadi ibu rumah tangga, menjaga warung kecil dan menerima pesanan nasi dos sekaligus tekun memilah dan membersihkan sampah adalah buktinya.
Selepas memenuhi kebutuhan keluarganya di pagi hari dan membereskan rumah, seperti biasa Rosmini memilih duduk di depan warung sambil memilah dan membersihkan sampah dengan pisau tipis andalannya.

“Dari pada duduk saja, gosip tidak ada dikerja,” terangnya.

“Ada kantong plastik saya simpan di masing-masing kamar anakku. Juga di dapur. Agar tidak ada satu sampah pun yang lolos untuk dipilah. Jarang kita (saya) membuang sampah. Karena pembungkus mie instan pun bisa jadi ekobrik. Kita padatkan ke dalam botol plastik untuk jadi aneka manfaat seperti tempat duduk,” sambung Rosmini.

Ia sadar betul, nilai sampah memang  relatif kecil tak sebanding dengan volume sampah yang banyak. Namun, karena dijalani secara berkelanjutan hasilnya pun telah ikut membantu keuangan keluarga. Ia telah beberapa kali mencairkan tabungannya.

“Pernah lebaran, saya bilang cek-cek dulu deh tabungan siapa tahu bisa menambah untuk kebutuhan lebaran. Eh, akhirnya saya bisa beli baju gamis dari situ. Pernah empat ratus ribu, tiga ratus ribu. Pernah juga saya pakai ongkos ke Mamuju,” urainya.

Sisa saldo Rosmini sejak Januari lalu kini ia pindahkan menjadi tabungan emas. Sekarang tercatat sudah 0,17 gram dan akan terus ditambah. Ia membulatkan hati akan terus memilah sampah demi mengurangi pekerjaan tukang sampah dan volume sampah di Makassar yang produksinya sudah sangat besar. Harapan besarnya, ibu-ibu yang lain bisa mengikuti jejaknya.

“Emas bagus, bisa digadai sewaktu-waktu kalau lagi butuh uang. Seandainya mereka sadar (mengolah sampah). Tentu ini akan mengurangi sampah dan bisa diolah kembali,” harapnya.

*Membantu Masalah Sampah di Makassar*

Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal mengungkapkan, Bank sampah
orientasinya memastikan sampah masih mungkin bernilai ekonomi. Dengan sentuhan The Gade nilainya bisa lebih meningkat lagi.

“Ini tentu membuat masyarakat semakin termotivasi karena nilai lebih tinggi disamping nilai lingkungan dan sosialnya,” kata Syamsu Rizal yang akrab diaapa Deng Ical itu saat turut dalam peresmian Bank Sampah di Kantor Camat Manggala, Makassar.

Secara lebih luas, andilnya Pegadaian ini dapat membantu masalah sampah di Kota Makassar yang masih jadi pekerjaan rumah. Ia mengurai, setiap hari masyarakat Makassar memproduksi sampah hingga 1.200 ton.

Namun, yang bisa direuse (memakai dan memanfaatkan kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang baru) dan direcycle (mendaur ulang kembali barang lama menjadi barang baru) baru 30-40 persen. Artinya masih sekitar 850 ton yang berakhir di TPA.

“Dan kapasitas angkut di Makassar ke TPA baru 70 persen. Masih ada 30 persen sampah yang tidak tahu ke mana. Nah, dengan The Gade ini jelas akan sangat membantu kami dalam penangulangan masalah sampah,” pungkasnya. (*)

Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#TRENDING

To Top