ANEKA

Permudah Investor Pemula, BEI Usul Insentif Biaya Transaksi

MAKASSAR, UPEKS.co.id—Bursa Efek Indonesia (BEI) mengusulkan regulasi yang mempermudah investor
pemula dengan usia di bawah 17 tahun berinvestasi saham dan insentif biaya transaksi. Kemudahan ini akan
membuat pasar saham lebih inklusif terhadap anak muda.

Wacana itu merespons kajian dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang tengah mempertimbangkan untuk
membolehkan kalangan remaja yang belum berusia 17 tahun bisa membuka rekening saham tanpa menggunakan
Kartu Tanpa Penduduk, tapi cukup melalui Nomor Induk Kependudukan (NIK) di Kartu Keluarga, tujuannya untuk  mengenalkan instrumen saham sejak dini.

Kepala BEI Perwakilan Makassar, Fahmin Amirullah berharap kebijakan mengenai hal tersebut bisa terealisasi.

Masalahnya millenials kalangan sekolah Menengah Atas (SMA) banyak protes atas belum diizinkannya mereka  berinvestasi saham.

“Sementara mereka sudah belajar pasar modal,” kata Fahmin kepada Upeks, Rabu (27/02/19).

Fahmin bilang, konsep begini sudah diterapkan di Jepang. Di sana ada namanya saham junior. Selain lebih  inklusif, kebijakan tersebut dinilai akan memasifkan edukasi pasar modal.

“Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Anaknya diedukasi, anaknya edukasi awal orangtuanya,” tuturnya.

Terlebih, pola seperti ini sudah sejak lama dilakukan oleh perbankan. Seperti pada produk simpanan pelajar  (Simpel). “Simpel bisa, harusnya efek juga bisa,” pungkasnya.

Hasan Fawzi, saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (26/2/2019) menjelaskan, konsepnya  sederhana. Jadi orang tua membukakan rekening efek untuk anaknya, menabung saham dalam jangka panjang,  tidak bisa diambil dalam jangka waktu tertentu, tidak untuk dijual kembali dalam jangka pendek.

Hasan menambahkan, BEI juga mengusulkan agar kajian OJK juga memungkinkan keringanan biaya transaksi  (fee transaksi) sebagai insentif. Saat ini bursa masih melakukan kajian lebih lanjut mengenai hal tersebut.

“Mungkin bisa dalam bentuk fee transaksinya atukah prosesnya di KSEI. Kita akan lihat,” ujar Hasan.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen tengah mempertimbangkan kebijakan  membolehkan remaja yang belum memiliki KTP juga bisa membuka rekening saham.

Hal itu, karena mengamati  tren bursa saham di negara lain, seperti Jepang yang telah memiliki program junior, untuk mengakomodasi  generasi muda mengenal instrumen saham.

Sedangkan, dari dalam negeri, perbankan sudah lebih dulu menerapkan dengan pembukaan rekening junior.  Namun sayangnya, Hoesen belum bisa menyebut kapan aturan ini dapat direalisasikan.

“Perbankan sudah duluan dengan rekening junior. Nanti tidak kita sebut junior program mungkin tapi remaja, belum 17 tahun, belum punya KTP, untuk bisa buka rekening efek. Ini sedang kita kaji dan persiapkan,” kata Hoesen di Gedung OJK, Jakarta, Senin (18/2/2019). (hry).

Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#TRENDING

To Top