ANEKA

Pengurus Pusat Lantik KH Hamza Harun Sebagai Ketua PW NU Sulsel

 

LANTIK. Pelaksana Jabatan Rais Aam Pengurus Pusat NU, KH Miftahul Akhyar, melantik pengurus wilayah Nahdlatul Ulama Sulsel di Hotel Four Points by Sheraton, Sabtu (2/2). Ist.

MAKASSAR,UPEKS.co.id—KH Hamza Harun dilantik sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU)
Sulawesi Selatan (Sulsel) masa jabatan 2018-2023 di Hotel Four Points by Sheraton, Sabtu (2/2).

Pelantikan dilakukan Pelaksana Jabatan Rais Aam Pengurus Pusat NU, KH Miftahul Akhyar dan disaksikan oleh  Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah serta ribuan undangan.

Pengurus yang dilantik, Rais Syuriah PW NU Sulsel, AGH KH Sanusi Baco, Khatib Syuriah PW NU Sulsel Ruslan  Wahab, Ketua Tanfidziyah PW NU Sulsel Hamza Harun Al Rasyid, Sekretaris Tanfidziyah PW NU Sulsel Nur  Taufiq Sanusi dan Bendahara PW NU Sulsel Andi Mustamin Anshar serta pengurus lainnya.

KH Miftahul Akhyar mengatakan pelantikan ini merupakan Surat Keputusan dari para Wali Allah. Ini SK Para  Auliayaa, Insya Allah akan tetap berdiri sampai akhir kiamat.

Diharapkan, agar kelak PWNU Sulsel bisa melahirkan program yang handal dan bisa bermanfaat untuk negara.  Pengurus ini semoga bisa merumuskan danmerealisasikan program yang baik untuk semua umat.

Sementara itu, KH Hamza Harun mengatakan, NU saat ini mengalami tantangan zaman berat. Diantaranya  gerakan Islam trans nasional dan pergulatan ideologi-ideologi global. Tantangan itu harus direspon dengan penuh  semangat.

Untuk menopang hal itu, dia akan prioritaskan penguatan sumber daya manusia (SDM), SDM NU sangat besar di  Sulsel terdiri dari berbagai unsur seperti ulama, akademisi dan lainnya, namun sejauh ini kader-kader yang ada  belum terkelola baik.

”Kami ingin melakukan penguatan SDM. Pengembangan SDM yang tak kalah penting itu SDM dari pondok  pesantren. Sebab, pondok pesantren banyak melahirkan SDM berkualitas dan hal ini perlu pengelolaan dan  pengembangan dari tingkat dasar,” kata KH Hamza.

“Jadi dari pesantren itu banyak sdm baik dari IPNU maupun Ansor serta lembaga struktural yang memiliki kader,  diantaranya juga PMII. Jadi sebelum ke kota, ada pengkaderan di daerah ditingkat Aliyah, agar lebih siap ke tingkat  selanjutnya,” katanya.

Lebih jauh, Hamza memiliki menjelaskan, sedikitnya empat tahap pengembangan SDM di pondok pesantren.  Pertama, penguatan visi ke-NU-an, kemudian, melatih kader NU memiliki komitmen ke-NU-an lebih kuat.

Selanjutnya melatih kader NU agar lebih peka terhadap perubahan ideologi, dan melatih kader NU agar lebih peka  terhadap keadaan sosial. (rls).

Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#TRENDING

To Top